Selasa, 20 Desember 2011

Bertambah Warga Kepulauan Meranti Riau Jahit Mulut di DPR

Ist.
Beritabatavia.com - Jumlah Warga Kepulauan Meranti, Pulau Padang, Riau, yang menjahit mulutnya di depan pintu gerbang DPR Jakarta, terus bertambah. Aksi semula hanya dijalankan hanya 8 orang, kini memasuki hari kedua bertambah lagi 10 orang menjahit mulutnya.

Aksi yang digelar sejak Senin (19/8), sebagai bentuk protes tuntutan agar perusahaan kertas PT RAPP yang menguasai Kepulauan Meranti, dicabut izinnya. Aksi ini digelar hampir dua bulan lebih yang diawali dengan aksi di Kantor Bupati, dilanjutan ke Gubernur Riau hingga ke gedung parlemen di Jakarta.

Sayangnya, aksi protes warga Kepulauan Meranti, Pulau Padang, Riau, tidak mendapat respon dan dibiarkan beralarut-larut. Meski demikian warga desa itu tetap berjuang agar perusahaan kertas terbesar di Riau tidak diberikan izin penambangan.

Semula aksi di pintu gerbang DPR, dilakukan dengan unjuk rasa, lalu membangun tenda dan menjahit mulutnya. Delapan orang yang sudah dijahit tersebut tergabung dalam Serikat Tani Nasional. Mereka adalah Tamsur (37), Sutoto (37), Purwati (47), Yahya (47), Junaidi (36), Misri (43), Busro (40), dan Muslim (50).

Mulut mereka dijahit di dua sisi kanan dan kiri. Dua benang tampak menjerat mulut mereka. Mulut mereka bungkam, di dada mereka ditempel kertas bertulis identitas mereka.

Mereka tiduran di tenda sederhana berwarna biru yang dipasang alakadarnya di depan gerbang DPR. Puluhan teman mereka juga tidur di tenda sederhana yang dibangun di sebelahnya. Beberapa diantara mereka terlihat meringis kesakitan.

Kondisi mereka pun tampak mulai lemah. Sementara hingga saat ini belum ada ambulans yang disiagakan untuk menjaga kesehatan mereka.

Di bagian atas tenda dipasang spanduk besar bergambar Presiden SBY dan Menteri Kehutanan Zulkifly Hasan. Spanduk itu juga bertuliskan "Aksi Jahit Mulut Mendesak Pemerintah Realisasikan Pasal 33 UUD 1945".

Di atas kepala mereka dipasang spanduk bertulis "Cabut Izin PT RAPP di Pulau Padang Kepulauan Meranti". Perusahaan pulp ini menguasai 41 ribu ha lahan di Kepulauan Meranti.

Rencananya aksi jahit mulut ini akan digelar dalam beberapa hari ke depan. Total ada 73 orang yang akan beraksi.

"Rencananya 73 orang, sekarang baru 8 karena belum ada tim medis. Siang ini tambah 10 orang dan seterusnya bertahap," tutur koordinator aksi, Binbin Firman Tresnadi. o end