Rabu, 06 Juni 2012
Solar Langka, Nelayan Sulit Cari Ikan
Beritabatavia.com - Nasib nelayan di Jakarta Utara sungguh tragis. Selain sulit mencari ikan di laut akibat pencemaran yang tinggi, kini ratusan nelayan dihadapkan pada sulitnya mendapatkan solar. Seringkali pembelian solar juga dibatasi di SPBU.
Menurut Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jakarta, Yan Mahyar Kartasasmita, nelayan sulit mendapatkan solar di SPBU. Mereka terpaksa membeli secara eceran dengan harga lebih mahal mencapai Rp5 ribu per liter (di SPBU sekitar Rp4.500 per liter).
"Nelayan membeli solar menggunakan jerigen, karena digunakan untuk cadangan ketika bahan bakar habis di tengah laut. Namun, di SPBU dibatasi dan kadang tidak melayani pembelian derijen. Kondisi ini sering terjadi bahkan perah seminggu SPBU ditutup," ungkapnya, kemarin.
Para nelayan juga mengeluhkan kecilnya subsidi solar yang diberikan pemerintah. Untuk kapal ukuran 30 Gross Ton (GT) hanya mendapatkan subsidi sebanyak 25 Kilo Liter (KL). Padahal, idealnya ukuran kapal tersebut mendapat subsidi 75 KL.
"Solar tetap diperjuangkan untuk ukuran kapal 30 GT dari 25 KL menjadi 75 KL. Sebab, kalau 25 KL para nelayan hanya bisa melaut bolak balik Kepulauan Seribu-Jakarta saja, dan tidak bisa ke luar Pulau Jawa yang ikannya banyak."
Nelayan, katanya, juga mengeluhkan buruknya kualitas kapal bantuan pemerintah sehingga tidak bisa dimanfaatkan. "Kapal yang diberikan pemerintah tidak bisa dipakai, karena bikinnya kurang baik, alat-alatnya tidak lengkap, dan nelayan tidak sanggup untuk membeli perlengkapan."
Ada rencana pemberian bantuan kapal untuk nelayan ukuran 30 GT untuk nelayan di Jakarta . Namun demikian, baru satu yang diserahkan akan tetapi tidak bisa digunakan. Sementara satu lagi rencananya diserahkan 2012. "Kami menolak, karena tidak sesuai dengan kebutuhan nelayan."
Muslim (35), nelayan Muara Angke mengaku sering tidak dapat solar di SPBU dan terpaksa membeli secara eceran. "Di SPBU harganya Rp 4.500 per liter, tapi sering kehabisan. Terpaksa saya membeli solar eceran dengan harga yang mahal Rp 5.000 per liter agar tetap bisa melaut. Nasib kami sangat tragis tetapi tidak ada perhatian dari pemerintah. o ep