Kamis, 26 Juli 2012

Perubahan Cuaca Penyebab Harga Kedelai Dunia Melambung

Ist.
Beritabatavia.com - Kenaikan harga kedelai internasional disebabkan oleh anomali cuaca yang terjadi di Amerika Serikat dan Brasil serta Argentina. Demikian diungkapkan oleh Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan pada wartawan di Kementerian Perdagangan, Kamis (26/7).

"Kenaikan harga di tingkat internasional tersebut sangat mempengaruhi harga kedelai dalam negeri yang 70 persen dipasok dari kedelai impor," kata Menteri.
Anomali cuaca ini tidak hanya berdampak terhadap pasokan tetapi juga harga.

Harga kedelai internasional pada Minggu ketiga Juli 2012 sudah mencapai  622 dolar AS per ton atau Rp 8.345/kg untuk harga paritas impornya didalam negeri.

Harga ini lebih tinggi jika dibandingkan harga tertinggi pada 2011, yaitu bulan Februari yang berkisar 513 dolar As per ton atau harga paritas impornya didalam negeri sekitar Rp 6536/kg.

Mendag menyebutkan bahwa pemerintah sepakat untuk menurunkan bea masuk dari 5 menjadi 0 persen hingga bulan Desember 2012.

"Kebijakan ini sifatnya jangka pendek dan sementara, dan ini harus diupayakan dengan penyesuaian konsumsi, mengingat kenaikan harga internasional yang sudah cukup tinggi," ujarnya.

Selain menurunkan bea masuk, langkah jangka pendek lainnya adalah memfasilitasi Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Kopti) untuk dapat melakukan impor sendiri, termasuk juga mungkin kerjasama dengan Bulog.

Untuk jangka panjang, Mendag menilai pemerintah harus  menetapkan peningkatan produksi sebagai prioritas utama dalam rangka menjaga stabilitas pasokan dan harga ditingkat para perajin tahu tempe.

Mendag menambahkan bahwa konsumsi kedelai dalam negeri sudah diantisipasi pemerintah melalui peningkatan produksi kedelai namun masih terkendala faktor lahan yang berkompetisi dengan jagung, tebu, beras dan konversi lahan untuk kebutuhan lainnya.

Disamping itu, terdapat kendala iklim dimana Indonesia beriklim tropis, sementara kedelai dapat tumbuh baik didaerah beriklim sub tropis. Upaya tersebut terlihat dalam kurun lima tahun terakhir dan berdasarkan data statistik Kementerian Pertanian, terdapat kecendrungan peningkatan terhadap rata-rata produksi kedelai sebesar 4,38 persen, produktivitas 1,04 persen dan luas lahan untuk tanam kedelai 3,1 persen.

Namun memang, peningkatan produksi dan produktivitas itu belum dapat mengalahkan tingkat produksi pada awal 1990 an yang jumlahnya lebih tinggi dibandingkan jumlah impornya. O brn