Senin, 06 Agustus 2012
Dua Musisi Senior Gugat Kompas dan Metro TV
Beritabatavia.com - Konser Chrisye 'Kidung Abadi' berbuntut panjang. Yockie Suryo Prayogo dan Debby Nasution, dua musisi senior Indonesia merasa dilangkahi karena 8 lagu ciptaannya dibawakan dan diaransemen ulang, tanpa seijin Yockie dan Debby.
Jalan yang ditempuh kedua musisi dengan mengadukan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Metro Jaya, Senin (6/8) petang.
Mereka yang digugat dengan tudingan pelanggaran hak cipta adalah, Kompas Gramedia Majalah Live Action selaku
penyelenggaran. PT Media Televisi Indonesia (Metro TV) yang menyiarkan konser Chrisye, juga Erwin Gutawa sebagai music arranger, serta para performer seperti Elfonda Mekel alias Once, Armand Maulana (Band Gigi) dan Sophia Latjuba.
"Ada delapan lagu ciptaan saya dan Debby yang diaransemen, ditampilkan, direkam, dan disiarkan di televisi pada Konser Chrisye Kidung Abadi yang diselenggarakan 5 April lalu di Jakarta Convention Center (JCC) dan 14 April di Metro TV. tanpa ijin selaku pencipta lagu," papar Yockie usai melaporkan gugatannya.
Delapan lagu itu, Juwita ciptaan Yockie Suryo Prayogo dan Junaidi Salat, lagu berjudul Selamat Jalan Kekasih, Hening dan Resesi, ketiganya buah karya Yockie Suryo Prayogo dan Eros Djarot. Juga lagu, Khayalku, Angin Malam, Cintaku, Semusim keempat lagu ciptaan Debby Nasution dan Eros Djarot.
Dikatakan, sejak awal sudah diperingatkan, sampai adakan jumpa pers, hingga akhirnya somasi terakhir yang batas waktunya hari ini, tak ada penyelesaian secara konkrit. Sebagai konsekuensinya, membawa masalah ini ke ranah hukum.
Yockie menyebut dirinya dan Debbie tak pernah punya niatan membuat masalah ini menjadi runyam. "Saya sama sekali tidak pernah beritikad secara emosional membawa permasalahan ini menjadi rumit. Tapi, semata-mata demi perkembangan musik Indonesia sendiri. Kita harus mulai menghargai karya cipta orang. Musik Indonesia tak akan berkembang kalau tidak ada upaya penghargaan. Tak akan ada karya-karya yang lahir kalau iklimnya tak kondusif. Tak akan ada pencipta baru kalau iklimnya tak baik," katanya.
Yockie mengatakan etika merupakan salah satu hal yang membuat iklim musik menjadi kondusif. Salah satu membuat iklim kondusif adalah etika. Ketika etika atau aturan sudah ditempatkan secara maksimal, tentunya bisa menciptakan kondisi yang bagus.
Yockie mengatakan pihaknya menggugat PT Kompas Gramedia Majalah (Live Action), Erwin Gutawa, para performance Once serta Band Gigi, dan Metro TV. "Tiga pihak itu yang saya gugat. Somasi sudah tiga kali dilayangkan, sejak empat bulan peringatan. Dalam empat bulan itu, sudah ada upaya-upaya untuk bertemu dan menyelesaikan. Kami sudah memberikan waktu yang cukup. Tapi sampai hari tak ada solusi yang konkrit. Mereka saling lempar tanggungjawab. Seharusnya ada pihak yang bertanggungjawab," katanya.
Kuasa Hukum Yockie dan Debby, Dedy Kurniadi menuturkan pihaknya bersama klien melaporkan para terlapor agar Undang-undang Hak Cipta bisa ditegakan. "Ada dugaan pelanggaran hak cipta. Para terlapor memakai karya cipta Yockie dan Debbie tanpa izin mereka. Sudah ada surat menyurat, tapi tak ada penyelesaian. Kami menuntut ditegakannya Undang-undang Hak Cipta. Kami menginginkan terlapor menyadari kesalahan, memohon maaf dan kompensasi ganti rugi. Berapa jumlahnya masih kami rahasiakan," katanya.
Dedy menegaskan, pihaknya sudah resmi membuat laporan dengan nomor laporan 2757/VIII/2012/PMJ/Ditreskrimsus. "Mereka melanggar Pasal 72 ayat 1 juncto ayat 2 No.19 tahun 2002 tentang hak cipta," kata Dedy. o endy