Kamis, 16 Agustus 2012
Pungli Samsat Polda Metro Jaya kian Menjerat Rakyat
Beritabatavia.com - Praktik pungutan liar (Pungli) di kantor Pelayanan Satuan Manunggal Administrasi Satu Atap (Samsat) Jakarta Selatan, di kompleks Polda Metro Jaya, Kamis (16/08), masih marak dan makin menjerat rakyat kecil yang mengurus adminstrasi kendaraannya. Praktik pungli terjadi di setiap proses yang harus dilalui masyarakat untuk memperpanjang Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) atau Surat Izin Mengemudi (SIM) bahkan BPKB.
Jeffery (32), warga Cipete, Jakarta Selatan. Jeffery ketika itu sengaja datang ke kantor Samsat Jakarta Selatan untuk mengurus perpanjangan STNK yang jatuh pada tanggal 20 Agustus 2012, dimintai uang Rp30.000 untuk cek fisik. beli kertas Rp10.000 dan uang administrasi Rp10.000
Padahal, lanjut Jeffry, semua layanan itu kan seharusnya tidak bayar. "Nah kita mau nanya ke petugas takut dibentak ya mau apalagi kita tetap bayar," paparnya.
Jeffery mengaku, pungutan liar itu sudah biasa terjadi di kantor Samsat Jakarta Selatan. Meski merasa kesal, warga tetap menuruti kemauan oknum petugas agar urusan cepat selesai.
Hal senada juga diungkap Satrio, warga Pondok Indah saat memutasi kendaraan itu, dimintai uang Rp350.000 untuk admintrasi, ditambah lagi dari cek fisik Rp50.000, mapping buku Tata Usaha Polri (TU) meminta uang . "Pokoknya saya harus bayar total jenderalnya bisa mencapai Rp700.000," ungkapnya.
Satrio mengaku tidak beres dengan harga yang harus dibayar sebesar itu. "Bayangkan jika sehari ada 100 kendaraan, berapa uang yang dikeruk dari masyarakat," tambahnya.
Suryani (47), warga Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur mengaku proses yang harus ditempuhnya begitu berbelit-belit.
Bahkan, Suryani juga diharuskan membayarkan uang yang tidak jelas peruntukannya.
“Saya mau buat STNK lagi karena yang kemarin hilang sepekan lalu. Dari tadi saya sudah dilempar sana-sini mulai dari kantor Samsat Jakarta Timur dilempar lagi ke sini. Begitu sampai di sini, dilempar-lempar lagi ke bagian lainnya,†kata Suryani.
Suryani sudah mengeluarkan uang Rp 60.000 namun STNK baru yang diajukannya belum juga keluar. Suryani terus menunggu dengan sabar di depan loket Samsat. “Katanya akan dipanggil, tapi dari tadi belum dipanggil. Malah calo-calo itu enak sekali, datang langsung diurus,†ujar Suryani.
Yang membuat kesal, katanya, bukan antrian menunggu tetapi ulah para oknum Kepolisian yang seakan “memeras†dirinya setiap tahapan proses penggantian STNK. Pada tahap awal, Suryani melakukan cek fisik untuk memeriksa jenis kendaraan dan kerangka mesin. Di sana, Suryani dimintai Rp10.000 oleh petugas untuk biaya administrasi.
Hal serupa kembali dialami Suryani saat melakukan proses pengecekan arsip, pengambilan bukti keaslian STNK, hingga fotokopi. “Semuanya saya dimintai duit. Totalnya sampai Rp60.000. Tapi saya tidak dapat tanda terima, tidak tahu itu uang untuk apa,†kata Suryani kesal. o end