Rabu, 07 November 2012

Obama, Presiden Yang Menorehkan Sejarah

Ist.
Beritabatavia.com - Pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2008, Presiden Barack Husein Obama (51 tahun) menorehkan sejarah dengan muncul sebagai presiden ke-44 AS dan menjadi presiden kulit hitam pertama yang dipunyai negara adidaya itu.

Kali ini, Obama yang menghabiskan masa kecilnya di Jakarta itu juga berarti menjadi orang kulit hitam pertama yang terpilih kembali menjadi presiden AS.

'Ini terjadi karena Anda semua. Terima kasih,' kata Obama melalui akunnya di jejaring sosial Twitter, yang diikuti oleh 22 juta orang, tak lama setelah ia mengumpulkan suara melewati angka 270 angka electoral college.

Seperti yang ditunjukkan melalui laporan langsung berbagai stasiun televisi, tak lama setelah suara yang diperoleh Obama telah melewati angka 270, ribuan orang yang berkumpul di Chicago sontak bersorak sorai, demikian juga mereka yang berada di pusat kota New York, Time Square, dan di luar Gedung Putih pada Selasa (6/11) waktu setempat atau Rabu (7/11) pagi WIB.

Mereka yang berkumpul di Chicago Convention Center selain bersorak juga berjoget diiring lagu dari kelompok musik The Supreme`s berjudul 'You Can`t Hurry Love' yang diperdengarkan melalui pengeras suara.


Presiden Barack Obama pada Selasa malam terpilih kembali menjalani jabatan sebagai presiden Amerika Serikat periode kedua setelah mengumpulkan minimal 270 dari total 538 suara electoral college, yaitu lembaga yang memilih presiden dan wakil presiden di 50 negara bagian AS.

Hingga Rabu dinihari, Obama mengumpulkan suara electoral lebih banyak dibandingkan pesaingnya dari Partai Republik, Mitt Romney, yaitu 284 berbanding 203.

Kemenangan itu dicapai Obama setelah unggul atas Romney di negara bagian yang sangat menentukan, Ohio.

Dengan demikian, Obama (51) kembali mencatat sejarah, yaitu menjadi presiden kedua dari Partai Demokrat yang menang untuk kedua kalinya pada Pemilihan Presiden AS sejak Perang Dunia ke-dua. Ia mengulang prestasi pendahulunya yang juga ikut mendukung kampanyenya, Bill Clinton. O reuters