Rabu, 14 Juli 2010

PD Pasar Jaya Tindak Lanjuti Kenaikan Harga Sembako

Ist.
Beritabatavia.com - Direktur Utama PD Pasar Jaya, Djangga Lubis, mengakui adanya kenaikan harga bahan makanan, terutama kelompok sayuran yang cukup tinggi di Provinsi DKI Jakarta. Kendati demikian, pihaknya belum bisa mengetahui penyebab pastinya kenaikan harga bahan makanan di ibu kota. “Meski harga naik tajam, namun hingga saat ini suplai bahan makanan, termasuk sayur-sayuran di pasar tradisional cenderung normal. Kami berusaha agar tidak ada kelangkaan sayuran di pasar tradisional yang bisa mengakibatkan kenaikan harga yang lebih tinggi. Penyebab kenaikan harga sedang kita cari,” katanya, Rabu (13/7).
Karena itu, kata Djangga, pihaknya tidak bisa langsung mengintervensi untuk menekan kenaikan harga sayuran. Karena selama ini, penentuan harga naik atau tidak merupakan kewenangan penjual yang umumnya dipengaruhi permintaan dan suplai yang ada.
PD Pasar Jaya hanya bisa menjamin kelancaran suplai sayuran. Yaitu dengan berupaya mempermudah proses operasional perdagangan di pasar tradisional dengan memberikan kemudahan pada para pedagang. Seperti, tidak membuat mereka mendapat kesulitan saat membuka kiosnya, atau menjaga pelayanan fasilitas lainnya mulai dari listrik, kebersihan, dan pendukung lainnya.

Laju Inflasi DKI Meningkat
Sementara itu, kenaikan harga bahan makanan, khususnya sayuran diprediksi akan mengakibatkan kenaikan inflasi yang cukup tajam di Kota Jakarta pada Agustus 2010 mendatang. Kenaikan inflasi juga dipicu dengan adanya kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 10 persen yang diberlakukan 1 Juli 2010.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI, Agus Suherman, mengatakan kenaikan inflasi selama ini selalu dipicu dua komponen tersebut yaitu kenaikan harga dan TDL. Dia mengungkapkan, kenaikan bahan makanan terutama sayur-sayuran menjadi pemicu utama inflasi di Jakarta sejak Juni 2010. Dari tingkat inflasi sebesar 0,73 persen, naiknya harga-harga pada kelompok bahan makanan menyumbang inflasi sebesar 2,50 persen, dengan komoditi penyumbang inflasi terbesar yaitu cabai merah sebesar 0,1486 persen dan angkutan udara sebanyak 0,1186 persen.
Kenaikan bahan makanan pokok di pasar-pasar tradisional di Jakarta, menurutnya, diprediksi mencapai hingga 70 persen. Seperti harga cabai merah di Jakarta sekarang sudah mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut disebutkan karena kurangnya pasokan cabai ke pasar-pasar tradisional. Selain itu, dikarenakan cuaca yang memburuk sehingga memengaruhi pasokan dan kualitas sayuran sendiri. Sedangkan kenaikan tarif dasar listrik akan memicu kenaikan biaya operasional seluruh kegiatan perdagangan dan industri di Jakarta, yang pada akhirnya ikut berimbas pada kenaikan harga bahan makanan.
“Meskipun kenaikan inflasi diperkirakan akan cukup signifikan, diperkirakan inflasi tidak akan melebihi angka 1 persen, atau bahkan mencapai dua digit hingga akhir tahun. Karena tren kenaikan inflasi selalu terjadi pada Juli-Agustus setiap tahun,” katanya. O brn