Senin, 19 Juli 2010

Stok Kebutuhan Pokok Aman

Ist.
Beritabatavia.com - Jakarta -  Pemerintah menjamin ketersediaan bahan kebutuhan pokok selama bulan puasa, lebaran, bahkan sampai akhir tahun. Meski begitu, pemerintah masih terus berkoordinasi untuk kelancaran arus distribusi kebutuhan pokok. Demikian disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu kepada wartawan sebelum sebelum mengikuti Rapat Terbatas bidang Perekonomian di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (19/07).
Mari Elka mengaku sudah melihat stok barang-barang kebutuhan pokok dan perkembangan harga di lapangan. Dari segi stok, kata dia, tidak ada kekhawatiran. Persediaan lebih dari cukup sampai bulan puasa dan lebaran, dan sampai akhir tahun.
Untuk memastikan semuanya berjalan lancar, pemerintah masih terus memantau volatilitas (naik-turunnya) harga, terutama beras. Beras amat penting diperhatikan, karena menjadi bobot inflasi terbesar, selain sebagai kebutuhan paling besar bagi masyarakat tidak mampu.
Untuk menjamin ketersediaannya, menurut Mari Elka Pangestu, pemerintah memberi keleluasaan kepada Badan Urusan Logistik (Bulog) melakukan operasi pasar,  jika harga naik. Bulog, papar Elka, tak perlu menunggu instruksi dari Kementerian Perdagangan. Jika terlihat kondisi menuntut perlunya operasi pasar, Bulog dipersilahkan melakukannya sesegera mungkin. Dengan begitu, kestabilan harga beras terjamin.
Mengutip data yang ada, Mari menjelaskan, Bulog memiliki 500 ribu ton beras untuk melakukan operasi pasar. "Saat ini stok beras, minyak goreng, dan lain-lain semuanya cukup,” ujarnya.

Dampak TDL
Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) per 1 Juli 2010 berdampak pada kenaikan harga bahan pokok, seperti beras yang  mulai merangkak naik. Di Solo, harga beras naik Rp1.000 per kilogram. Kenaikan tersebut diprediksi terus melambung hingga memasuki Ramadhan.
Di Pasar Beras, Pasar Legi, Solo, berbagai jenis beras mengalami lonjakan harga cukup tinggi. Di antaranya jenis C4 Biasa dari Rp6.100 menjadi Rp7.000 per kilogram. Beras Menthik Wangi dari Rp6.200 menjadi Rp7.400 per kilogram.
Ali Wiyono, seorang pedagang beras di Pasar Induk Beras Solo, Pasar Legi mengungkapkan, kenaikan sudah mulai terasa sejak 26 Juni 2010. Bahkan dua pekan setelah itu, kenaikan cukup signifikan, terutama setelah kenaikan TDL.
Merebaknya hama wereng yang menyerang tanaman padi, juga memicu kenaikan harga beras. Akibat hama wereng, beberapa daerah sentra penghasil padi menurun drastis hasil panenannya. Saat ini, meski kualitasnya tidak begitu bagus, tetap laku. Namun, di sisi lain karena tingginya harga beras menyebabkan penjualan menyusut.
Ketua Umum HIPMI, Erwin Aksa juga mengkhawatirkan kenaikan TDL ini, bakal memicu kenaikan ongkos produksi. Akibatnya, pasti berimbas pada kenaikan harga. Apalagi, ini bertepatan dengan menjelang bulan puasa, disusul Lebaran, yang biasanya diikuti dengan permintaan tinggi dan mendorong harga-harga meninggi. O mun/na/nor