Kamis, 29 Juli 2010
2014 Pemerintah Targetkan 500 unit Pemantau Gempa
Beritabatavia.com - Untuk meminimalisir jumlah korban akibat gempa yang potensi mengancaman di sebanyak 28 wilayah di Indonesia. Pemerintah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat menargetkan pengadaan seismograf atau alat pemantau gempa bumi sebanyak 500 unit hingga 2014.
Sekretaris BMKG Pusat Dr. Andi Eka Sakya mengatakan, saat ini baru tersedia 160 unit yang tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia. Menurutnya, semakin banyak alat pemantau gempa bumi tentu akan kian cepat informasi yang masuk sehingga semakin bagus sampai kepada masyarakat. "Tujuan penambahan alat pemantau gempa bumi itu, supaya informasi yang disampaikan kepada masyarakat bisa sampai lebih cepat, sehingga bisa menekan jumlah korban akibat gempa," katanya. Sekarang informasi kejadian gempa menurutnya sudah mulai cepat yakni di bawah 5 menit, membuktikan peralatan dan teknologi yang dipakai semakin baik.
Menurut dia, untuk menyampaikan informasi lebih cepat, tepat dan akurat tergantung pada dua hal yakni peralatan yang bagus dan sumber daya manusianya yang berkompeten. Selain seismograf, pihaknya juga menargetkan penambahan radar yang saat ini baru tersedia 19 radar. Dan diupayakan pada 2014 dapat tersedia 50-60 radar sehingga perkembangan cuaca di seluruh wilayah Indonesia bisa cepat diketahui. Menurut Andi, penambahan peralatan BMKG bukan karena keterbatasan anggaran, tapi hanya ada tahapan harus dilakukan.
Bencana alam terjadi disebabkan fenomena alam dan ulah manusia, karenanya dibutuhkan penambahan peralatan dan peningkatan sumber daya manusia yang mengelolanya. Terkait hal itu Andi mengimbau masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga peralatan yang telah ada dan nantinya akan dipasang BMKG hingga 2015. "Untuk mengurangi resiko bencana sangat diperlukan kesadaran masyarakat, jika semua elemen bisa berkontribusi dalam mengurangi resiko bencana, tentu dampaknya akan semakin kecil," katanya.
Sementara itu, hasil pengecekan petugas BMKG kelas III Banyuwangi, Jawa Timur pada Rabu (28/7), diketahui bahwa alat pendeteksi gempa dan tsunami milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dipasang di Puncak Gunung Srawet Desa Kebondalem Kecamatan Bangorejo, telah dirusak dan dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Petugas BMKG hanya menemukan beberapa sisa peralatan yang ditinggal pelaku di sekitar lokasi kejadian.
Akibat kejadian ini, BMKG tidak saja menderita kerugian materi Rp500 juta lebih, tetapi saat ini BMKG juga tidak dapat melakukan pendeteksian terhadap segala kemungkinan terjadinya gempa dan tsunami di beberapa wilayah Indonesia.
Menurut seorang petugas penjaga sensor gempa di kantor BMKG kelas III Banyuwangi Gusmin, saat melakukan pengecekan hanya mendapati sisa-sisa perusakan alat yang telah hilang dari tempatnya. Bahkan, pelaku yang diduga lebih dari dua orang itu tidak puas merusak serta mencuri peralatan penting tersebut, tetapi juga merobohkan tower milik BMKG yang berfungsi sebagai tiang pemancar laporan hasil pendeteksi gempa dan tsunami. Sehingga praktis peralatan milik negara tersebut tidak dapat berfungsi karena hanya tersisa satu lembar solarsel dan itupun juga sudah rusak. O ant/son