Jumat, 13 Maret 2015

Pemeriksaan AS dan BW Ditunda Citra Komjen Haiti Melorot

Ist.
Beritabatavia.com - Banyak pihak yang menyangkan sikap Wakapolri Komjen Badroidin Haiti yang menunda pemeriksaan terhadap Abraham Samad  (AS) dan Bambang Widjojanto (BW). Apalagi selama ini AS dan BW cenderung melecehkan penyidik, dengan cara mempersulit, mempermainkan, dan mengabaikan panggilan untuk pemeriksaan. Sehingga penundaan yang dilakukan Haiti seakan mengakomodir tindakan AS dan BW yang melecehkan Polri.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta Pane menilai, penundaan ini menunjukkan Komjen Haiti tidak memberi kepastian hukum dan tidak berupaya menampilkan penegakan hukum yang cepat dan efisien.
Meskipun Neta melanjutkan, IPW memahami, penundaan ini bertujuan agar situasi sosial politik berjalan tenang dan datar, terutama menjelang uji kelayakan dan uji kepatutan yang akan dilakukan Komisi III DPR kepada Haiti sebagai calon Kapolri pada akhir Maret ini.

" Penundaan ini bisa membuat para penyidik Polri, terutama yang menangani kasus Samad dan BW kecewa dan frustrasi. Sebab sebelumnya elit Polri sempat mengatakan, jika Samad dan BW tidak memenuhi panggilan penyidik akan dilakukan upaya pemanggilan paksa," tegas Neta.

Apalagi, baru dua minggu lalu, Haiti mengatakan kasus Samad dan BW tetap berlanjut. Tapi kenapa kemudian berubah, apakah karena Haiti terjebak dalam opini publik yang dilancarkan pihak tertentu, sehingga mengabaikan prinsif penanganan perkara yang cepat dan efisien. Selain itu keputusan menunda pemeriksaan kasus Samad dan BW akan membuat citra Haiti di kalangan legislatif melorot. Haiti bisa dinilai kurang tegas dalam menangani kasus Samad dan BW.

Neta menjelaskan, penundaan pemeriksaan Samad dan BW itu sendiri terjadi setelah Wakapolri bertemu dengan para pimpinan KPK dan Jaksa Agung. Sepertinya, ada intervensi dari elit-elit institusi lain terhadap Polri.
"Jika intervensi ini dibiarkan, akan menjadi preseden buruk, yang bukan mustahil untuk kasus-kasus lain intervensi juga akan terjadi. Penundaan ini menunjukkan Polri tidak profesional dan diskriminatif," pungkasnya. O son