Kamis, 15 Oktober 2015

Presiden Jokowi Turut Hancurkan Wibawa Polri

Ist.
Beritabatavia.com - Kerusuhan 13 Oktober 2015 di Desa Sukamakmur, Gunung Meriah, Singkil, Aceh patut menjadi pelajaran. Peristiwa pembakaran gereja di hadapan 20 anggota Polri yang menyebabkan satu orang tewas, dan empat luka-luka  tidak boleh terulang lagi. Polri harus didorong agar percaya diri dalam menjaga situasi kamtibmas.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta Pane, mengatakan, peristiwa ini menunjukkan Polri kehilangan wibawa dan harkat martabat. Ironisnya, Presiden Jokowi turut memberikan kontribusi hancurnya wibawa Polri. Sebab di saat Polri sedang melakukan pemberantasan korupsi, Presiden Jokowi justru mencopot Kabareskrim Komjen Budi Waseso. Sehingga wibawa anggota Polri, mulai dari jenderal hingga personil di lapangan runtuh seketika. Di sisi lain masyarakat makin menyepelekan keberadaan anggota Polri di lapangan.

"Kasus pembakaran gereja di Aceh Singkil menjadi bukti betapa tidak berwibawanya Polri. Di saat rumah ibadah dijaga sekitar 20 anggota Polri, massa tetap saja nekat merusak dan membakarnya," kata Neta, Kamis (15/10).

Ironisnya, kata Neta, setelah terbakarnya gereja tersebut elit Polri dengan gampang mengatakan bahwa polisi tidak berdaya karena kalah banyak jumlahnya dengan massa. Padahal, jika Polri punya wibawa yang tinggi, berapa pun jumlahnya tetap bisa mengendalikan massa.

Dikatakan, jika kalah jumlah dijadikan alasan dikhawatirkan Polri tidak akan mampu mengendalikan situasi di Pilkada serentak pada Desember mendatang. Banyaknya masalah di Pilkada serentak akan membuat kerawanan tersendiri dan potensi konflik dimana-mana. Sementara polisi dipastikan kalah jumlah dengan massa para pendukung calon kepala daerah.

Untuk itu Presiden Jokowi harus introspeksi dan mengevaluasi diri agar tidak mudah mengintervensi dan mengacak-acak Polri. Sikap intervensi itu hanya akan membuat wibawah Polri runtuh dan Polri makin gampang dilecehkan masyarakat.

Apalagi jika Presiden Jokowi melakukan intervensi untuk mendeponering kasus Bambang Widjojanto dan Abraham Samad, wibawa Polri akan kian runtuh, elit-elit Polri akan kian ciut nyalihnya, dan masyarakat akan makin gampang melecehkan Polri. Akibatnya Polri makin ragu ragu dan
makin sulit menjaga situasi kamtibmas, terutama di daerah-daerah rawan.

IPW berharap Presiden Jokowi segera membangun moralitas dan harkat martabat Polri agar jajaran kepolisian makin berwibawa. Dengan demikian jajaran kepolisian makin percaya diri dalam menjaga keamanan dan para elitnya tidak ciut nyali atau menjadi pengecut karena intervensi presiden, sehingga masyarakat bisa merasakan wibawa Polri dan akan berpikir dua kali berbuat anarkis jika melihat anggota Polri di lapangan.O son