Rabu, 11 Agustus 2010

Akibat Iklim Ekstrim 2080 Monas & Istana Terancam Tenggelam

Ist.
Beritabatavia.com - Ketua dewan Nasional perubahan iklim Amanda Katili Niode mengingatkan, panas gas rumah kaca (GRK), termasuk gas buang pembakaran bahan bakar pesawat terbang, penebangan dan pembakaran hutan, membawa dampak pada pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim secara ekstrem.

Menurutnya, sejak 2008 lalu, bencana dan banjir, badai dan tanah longsor hingga gempa bumi terjadi hampir di seluruh dunia. “ Pada 2050, diperkirakan permukaan air laut terus naik hingga 0,56 meter dengan luas wilayah yang tenggelam sebesar 30.120 km2. Sementara pada 2100 mendatang, wilayah daratan Indonesia yang akan ditenggelamkan air laut sebesar 90.260 km2 dengan kenaikan permukaan air laut 1,1 meter,” kata Amanda dalam sebuah Dialog Interaktif bertajuk "Peran Serta Masyarakat Kampus dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim" di Theater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (9/8).
Lebih lanjut Amanda menjelaskan, bersasarkan hasil riset, dalam kurun waktu 50 hingga 100 tahun ke depan, apabila tidak dilakukan upaya pencegahan secara terstruktur dan tersismatis, maka pantai utara Jakarta, mulai dari Penjaringan, Koja, Cilincing dan seterusnya bakal tenggelam permanen.
Dijelaskan, pada 2010 pencairan es di kedua kutub membuat kenaikan permukaan air laut sekitar 0,4 meter. Akibatnya, seluas 7.408 Km2 daratan di wilayah Indonesia tenggelam. Jika ini terus dibiarkan, maka sekitar 2080 Monumen NAsional (Monas) dan seluruh wilayah Jakarta serta Istana Negara terancam tenggelam. O son