Senin, 13 Juni 2016

Kluruk & Wadah Sosial

Ist.
Beritabatavia.com - Aristoteles menyebut, semua makhluk hidup memiliki sifat sosial lalu popular dengan kata zoon politicion. Manusia adalah makhluk zoon politicion atau makhluk sosial yang tidak bisa hidup kalau tidak ada interaksi sesama jenis.

Manusia sebagai makhluk sosial akan cenderung berkelompok, menyatu/bergabung dengan orang-orang yang sejenis, sepaham, seide, sepemikiran, sesama hobby dan sebagainya.Kelompok-kelompok ini akan menjadi saudara baru dalam hidupnya.

Kelompok-kelompok formal bisa dikatakan sebagai organisasi, institusi, birokrasi. Adapun yang informal bisa menjadi gangs, group, kroni, dan lain sebagainya.

Kelompok-kelompok formal  ada yang memimpin yang secara de jure dan de facto menjadi tokoh sentralnya,demikian halnya dalam kelompok. Hubungan patron-klien akan saling mempengaruhi, saling mendukung satu dengan lainya dalam ikatan-ikatan emosional, fungsional, sosial bahkan secara idiologis.

Di dalam kelompok-kelompok ini akan menunjukkan jati dirinya. Sadar atau tidak sadar akan menunjukkan keberadaanya untuk dapat dilihat, diakui, dihormati bahkan hingga ditakuti.

Dalam analogi, menunjukkan jati dirinya dapat digambarkan sebagai ayam berkokok (kluruk). Ayam jantan tatkala mengusai sesuatu, mendapatkan sesuatu akan berkokok.

Di dalam kelompok-kelompok formal, kluruk dari orang-orang yang menonjol dapat dilihat dengan berdasar SOP atau dengan pendekatan impersonal. Sebaliknya pada wadah-wadah yang informal kluruknya di lihat dari pendekatan-pendekatan personal. Siapa disayang patron dialah yang menonjol. Dia pula yang akan menjadi paling keras kluruknya.

Dalam wadah-wadah sosial ini sebenarnya juga bisa menjadi bagian dari civil society untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tatkala di lakukan dengan prinsip-prinsip demokrasi.

Untuk mewujudkan supremasi hukum, memberikan jaminan dan perlindungan HAM,transparansi,akuntabilitas, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat serta ada pengawasan dan pembatasan kewenangan.

Sebaliknya tatkala wadah-wadah sosial ini dikelola secara preman, maka kluruknya akan menunjukkan “sopo siro sopo ingsun” atau siapa kamu dan siapa saya. Dengan pendekatan saling menekan, mengancam dan adu kekuatan.

Saat di atas kluruknya keras, ketika tiada daya berlari sambil berteriak  keok...keok....keok...collingdown bagai orong-orong  dikurung dalam tempurung.O Kombes DR CdL