Sabtu, 21 Agustus 2010
Masjid Tua Diantara Semrawutnya Tanah Abang
Beritabatavia.com - Masjid tua Al Makmur, di bilangan Jl KH Mas Mansyur no 6 persis disebelah Pasar Tekstil serta jembatan Blok A Tanah Abang ini seperti menjadi penyejuk ditengah hiruk pikuknya aktivitas di sekitar lingkungannya. Lalu lalangnya kendaraan berbagai jenis, deretan pedagang kaki lima, ditambah gersang dan polusi di wilayah tersebut seakan hilang ketika kita masuk dalam mesjid yang besar ini. Meskipun demikian, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo menyempatkan diri untuk bersilahturahmi sekaligus berbuka puasa bersama warga sekitar pada Sabtu (21/8) sore. Gubernur berpesan bahwa meskipun banyak hal yang masih harus dibenahi di Jakarta, hendaknya warga Tanah Abang khususnya serta warga Jakarta pada umumnya ikut berusaha untuk mewujudkan Jakarta yang aman dan nyaman.
Adapun sejarah mesjid ini sendiri bermula ketika perang antara Kerajaan Mataram, pimpinan Sultan Agung melawan VOC dibawah komando Jenderal Jan Pieterzoen Coen memperebutkan Batavia (1613-1645), ternyata banyak membawa hikmah. Meski kocar-kacir kalah hingga dua kali, banyak dari eks tentara Mataram memilih untuk menetap di Batavia dan membuka daerah-daerah baru di sekitar pusat kota.
Sedikit banyak, orang-orang Mataram ini memberi pengaruh pula pada pembentukan budaya awal masyarakat Betawi. Mulai dari struktur bahasa, adat istiadat, pakaian sampai nama-nama tempat di sekitar Betawi tempo dulu.
Perkembangan Islam di Batavia ditradisikan juga oleh orang-orang dari Mataram ini. Salah seorang bangsawan keturunan Kerajaan Mataram yang tercecer dari perang itu, adalah KH. Muhammad Asyuro. Muhammad Asyuro kemudian memilih wilayah Tanah Abang sebagai tempat mukimnya yang baru. Seolah sudah menjadi pakem baku, setiap pemukiman yang dibangun oleh kalangan Mataram pasti dilengkapi juga dengan sarana ibadah.
“Masjid Al Makmur ini bercikal bakal dari sebuah langgar/mushola yang dibangun oleh KH. Muhammad Asyuro tahun 1704 Masehi. Keberadaan langgar ini terus berlanjut sampai ke generasi KH. Muhammad Asyuro berikutnya. Kedua anak KH Muhammad Asyuro, KH. Abdul Murod Asyuro dan KH. Abdul Somad Asyuro tercatat menjadi penerus dakwah ayah mereka hingga masuk ke abad 20,†ujar A. Ghozali H.I ,sekretaris pengurus masjid Al Makmur.
Dengan semakin berkembangnya perkampungan dan bertambahnya jumlah penduduk sekitar langgar, maka atas inisiatif tokoh masyarakat Tanah Abang keturunan Arab, Abu bakar bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Habsyi, tahun 1915 langgar diubah menjadi masjid besar. Masjid yang dibangun di atas tanah wakaf seluas 1.142 m2, ini kemudian diberi nama Al-Makmur.
Tahun 1932 masjid ini diperluas hingga ke arah utara seluas 508 m2. Perluasan di atas tanah wakaf Salim Bin Muhammad bin Thalib itu kemudian ditambah lagi dengan sebidang tanah milik masjid di bagian belakang seluas 525 m2 di tahun 1953. Jadi luas total masjid ini sebesar 2.175 m2. Namun akibat pengembangan jalan, kini Masjid Al-Makmur hanya menyisakan beranda depan dengan tiga gerbang berpilar ramping berbentuk kelopak melati dan list-plang dengan lima lubang angin serta dua menara berkubah kecil bergaya mercusuar (dengan jendela dan teras) di kiri kanan bangunan utama. Sedikit lahan yang tersisa di depan masjid hanya cukup untuk parkir beberapa mobil saja.
Namun lokasi masjid ini cukup strategis. Dari Bendungan Hilir atau fly over Karet, ada bemo atau angkutan kota yang menuju ke arah masjid ini. Demikian juga jika daerah Harmoni yang dipilih sebagai alternatif untuk menuju ke lokasi Masjid Al Makmur. Atau dari Jalan MH Thamrin maupun Sudirman, pilih saja bus kota ke arah Tanah Abang. O brn