Minggu, 12 September 2010

PKL Dalam Area Ragunan Harus Ditata

Ist.
Beritabatavia.com - Calon pengunjung maupun warga yang datang ke tempat rekreasi murah di Kebun Bintang Ragunan (KBR) menilai penanganan pedagang kakilima dan makanan hendaknya lebih diperhatikan. Paling tidak ada satu titik lokasi yang memadai dan memenuhi syarat sehingga tak terlalu jauh.
“Harusnya ada penataan ulang setelah sepuluh tahun lalu ada penertiban bangunan oleh Pemda DKI berkaitan lokasi jualan yang didirikan tak ada izin atau sudah habis masa berlakunya,” ujar Nanto, warga Pasar Minggu, Minggu (12/9).
Menurut dia, kehadiran lapak atau kantin pedagang makanan yang tersebar di sejumlah sudut lahan kosong tersebut tentunya menambah kesan kumuh dan semrawut areal KBR yang terkesan hijau royo-royo dan sejuk ini.
“Paling tidak ada penataan ulang terhadap lokasi jualan pedagang yang tersebar di sejumlah titik lahan kosong di areal KBR,” tambahnya yang berharap penataan hendaknya dilakukan sesuai makanan atau jajanan yang disuguhkan untuk calon pengunjung.
Bahkan, tambah Ny. Rukmanto, warga Pondok Petir, Tangerang Selatan, kalau perlu ada lokasi jualan suvenir khas Betawi atau ibukota Jakarta maupun suvenir lainnya di lingkungan ini agar warga tak kesulitan mencari oleh-oleh suvenir yang memiliki ciri khas Betawi.
Ny. Ruyati, pedagang makanan, mengatakan buka jualan di dalam areal KBR tentunya harus memiliki persyaratan dan mendaftar terlebih dahulu ke pengelola KBR. “Yang jelas hasil jualan dengan sewa lapak maupun kios bisa tertutup, bahkan bisa lebih mendapatkan untung jika pengunjung penuh di saat liburan,” tambahnya.
Untuk iuran atau satu kios di dalam areal disewakan sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta/bulan, tuturnya itupun dilihat dari besar dan kecilnya lapak yang diinginkan pedagang. “Ini belum termasuk uang retribusi keamanan maupun kebersihan sekitar Rp 13 ribu/hari,” ujarnya.
Sementara pengunjung yang lain mengeluhkan beberapa pedagang makanan nakal yang seenaknya menaikan harga makanan diatas kewajaran. Belum lagi ada sejumlah pengamen yang tak mau pergi meski sudah ditolak secara halus. Masih ada lagi, banyak pedagang tikar yang langsung menaruh tikarnya di lapangan terbuka, padahal belum tentu pengunjung mau menyewa tikar yang dikenakan harga sewa seharga Rp 5000 itu.O brn