Kamis, 16 September 2010
Luka & Darah Kita
Beritabatavia.com - daging kita satu arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku
(Sutardji Calzoum Bachri)
Seorang Pendeta, Luspida Simanjuntak, pada tanggal 12 September 2010, ditusuk di Bekasi, Jawa Barat. Seorang Pastor, Terry Jones, memprovokasi dunia dengan pernyataannya yang akan membakar Al-Quran di Amerika Serikat. Dan, pada tanggal 11 September 2010 lalu, seperti yang dikabarkan , seorang pria bernama Derek Fenton telah membakar Al-Quran.
Lelaki berumur 39 tahun ini telah dipecat dari tempatnya bekerja, New Jersey Transit. Ia menyebut dirinya sebagai “orang Amerika yang setia†ini, sepertinya menjadi bagian dari provokasi Pastor Terry Jones yang memprotes pembangunan masjid di sekitar wilayah Ground Zero Amerika Serikat pada peringatan tragedi 11 September. Mereka ini, adalah sedikit orang yang terus berusaha mencuri perhatian.
Siapa pun kita, apapun keyakinan yang dianut, layak marah dan geram terhadap tindakan yang tak beradab ini. Provokasi serupa ini yang dengan segala upayanya, tak lain tujuannya, adalah ingin mengobarkan perang. Tarikan pelatuk amarah bagi kelompok provokator ini adalah usaha untuk membuat keruh. Dan, perang merupakan cara pencapaian tujuan. Bahwa, usaha serupa ini yang terus-menerus didesakan oleh sedikit orang yang tak pernah ikhlas melihat setiap orang memilih jalan damai. Karena, bagi mereka damai adalah sesuatu yang lembek dan pecundang.
Dalam pandangan semacam ini, apa yang mereka lembagakan dalam keyakinan itu kemudian berarti ekspansi dan penaklukan. Dengan atas nama, pelembagaan nilai dan kebajikan masing-masing, perang senantiasa akan dikobarkan. Kita, tak pernah tahu dengan jelas setiap jengkal apa yang menjadi agenda mereka. Tapi, yang pasti, kita akan terus-menerus didesak ke dalam sebuah ruang untuk saling diperhadapkan. Kita digiring dalam amarah untuk saling menghunus. Dalam gumpalan provokasi semacam inilah agaknya dunia kita tengah diuji. Dan, tatkala semua ini mendapatkan tempat, dalam setiap amarah dan darah yang tumpah, kemenangan ada di pihak mereka.
Lantas, akankah kita membuat mereka girang sembari merasa menang? Bahwa, kita telah terperangkap dan menari dalam irama gendang yang mereka mainkan. Sehingga kita ikut berjejal dalam barisan amarah dengan mengusung panji-panji mereka. Dan, kita akan saling membakar dan terbakar. Lalu yang tersisa bagi kita adalah, “menang jadi arang kalah jadi abu.â€
Tentu, dalam akal sehat yang bekerja kita akan bilang, “tidak!†Namun, jika akal sehat itu kemudian tunduk dan larut pada nafsu berkuasa, dan melihat setiap cela perbedaan ini menjadi peluang, bisa jadi ceritanya akan berbeda. Inilah kuda troya purba itu. Ini adalah kesempatan emas. Lantas, politisasi amarah dalam sucinya keyakinan massa kemudian dipertemukan dengan pasangannya. Di mana rasa sakit yang dipertautkan terus dipupuk dalam ingatan yang singkat. Bahwa, kita dilukai mereka. Barisan kita telah dinistakan.
Saat ini, bisa jadi, para penunggang kuda troya ini mungkin sedang mengedap-endap. Dengan mata nyalang, menunggu saat yang tepat mengobarkan amarah. Membumbui fakta dengan kisah fiksi. Dengan menyisipkan teori tentang konflik peradaban. Lakon purba itu siap mereka pentaskan. Mereka ingin menyalakan bara. Mengusung obor. Lantas membakar. Konon, seperti Nero, yang membakar kota Roma sembari membaca puisi.
Dalam titik simpang inilah kita orang kebanyakan hari ini. Barisan kita, adalah barisan panjang orang-orang yang mencintai keyakinan dengan bersahaja, yang ikhlas pada kehidupan harusnya dapat menjadi tempat untuk menjadi rahmat bagi semesta. Inilah waktu kita bergerak bersama dalam barisan yang tersusun rapi, berpegang teguh dalam satu niat, untuk meperjelas sikap, bahwa diam kita selama ini bukan berarti sama dan seiring dengan mereka. Kita diam karena kita percaya, bahwa kita adalah “Satu†seperti bait-bait akhir puisi yang ditulis oleh Sutardji Calzoum Bachri. “daging kita satu arwah kita satu/ walau masing jauh/ yang tertusuk padamu berdarah padaku.â€
Alhasil, biarlah mereka mahfum, pelbagai provokasi dan usaha untuk mempertikaikan kita adalah sesuatu yang mubazir. Bahwa, cara apapun yang digunakan untuk memancing serta menarik-narik kita ke wilayah kekerasan model mereka adalah kerja sia-sia. Terlebih, bagi sekelompok penunggang troya yang mengendap-endap. Sehingga menjadi terang buat mereka, bahwa keyakinan kita berbeda dengan mereka. Bahwa, marah sekalipun, tak akan membuat kita berlaku tidak adil. Semoga kita tak tergoda untuk tersesat jalan dan berlaku dzalim. Nauzubillah. 0 Dadang Rhs