Minggu, 25 April 2010
Korban Lapindo Peringati 4 Tahun Semburan Lumpur
Beritabatavia.com - Puluhan korban lumpur Lapindo berkumpul di kawasan kota tua, lapangan Museum Fatahilah, Jakarta Barat. Disaat warga yang lain sibuk menikmati suasana sore yang sejuk dan bercengkrama, puluhan warga korban Lapindo diantaranya anak kecil, berkumpul di pojok kiri museum, sambil menikmati makanan ala kadarnya.
"Kami ingin memperingati empat tahun semburan lumpur itu. Kami adalah sebagian dari mereka yang tersisih karena lumpur tersebut," ujar Nining, salah seorang warga Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (25/4).
Nining yang sengaja datang ke Jakarta bersama anaknya ingin agar masyarakat ibukota tahu, bahwa kejadian seperti ini jangan terulang lagi. Pemerintah seharusnya lebih berhati-hati dalam merencanakan suatu proyek besar, dan jangan lagi menyebabkan derita pada sebagian besar penduduknya. "Kami ingin bekerja,kami ingin menempati lahan yang sudah kami tempati puluhan tahun lalu. apakah itu salah?," ujarnya.
Wati, warga lain mengatakan bahwa memang sebagian besar mereka yang mendapat ganti rugi dari PT Minarak Lapindo Jaya sekarang sudah lebih baik nasibnya, bahkan bisa membangun rumah yang lebih bagus lagi. Namun bagi mereka yang lain, penduduk kecil yang hanya tinggal di gubuk yang tidak bersertifikat tanah, harus menerima nasib pahit.
"Kami tadinya adalah pegawai kecil di tambak ikan , serta lahan pertanian sekitar Jl Raya Porong-Sidoarjo. Sekarang semuanya sudah terendam lumpur, dan sampai sekarang kami hanya kerja serabutan, jadi pelayan toko atau bahkan jadi pemulung," lanjutnya.
Wati bercerita, bahwa kondisi di Jl Raya Porong Sidoarjo semakin tidak menentu. Belakangan terdapat semburan lumpur baru. Sewmentara kegiatan PT Minarak Lapindo disana hanya meninggikan tanggul agar lumpur tidak meluber kesamping rel kereta api dan Jl Raya Porong.
Acara ini sendiri menurut Wati adalah sebagai awal dari rangkaian kegiatan yang melibatkan warga Porong, Mereka akan menggelar pameran seni barang-barang bekas dari Porong yang kegiatan puncaknya akan dilaksanakan pada 29 Mei 2010 mendatang di halaman Museum Fatahilah.
"Kami butuh makan, bukan korporasi yang seenaknya mengobrak-abrik tempat kami. Kami butuh makan bukan lumpur," pungkas Wati. * brn