Wakil Kepala BIN periode (2023-2024) Letjen TNI (Purn) I Nyoman Cantiasa mengingatkan pentingnya memperkuat kewaspadaan nasional di tengah konflik global yang kompleks, cepat berubah, dan penuh ketidakpastian.
Hal itu disampaikan I Nyoman Cantiasa saat memberikan ceramah kepada peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVII Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI di Ruang Bhinneka Tunggal Ika, Gedung Pancagatra Lemhannas, Gambir, Jakarta Pusat, pada Jumat (27/2).
Menurut Nyoman Cantiasa, kewaspadaan nasional menuntut kualitas kesiapan dan kesiapsiagaan RI untuk mampu mendeteksi, antisipasi dini, dan pencegahan dari berbagai macam bentuk dan sifat potensi ancaman.
Dalam konteks konflik global, kewaspadaan nasional bertindak sebagai imunitas bangsa dengan menjaga kohesi sosial dalam negeri di tengah derivasi berbagai ancaman global.
Dinamika Geopolitik telah bergeser dari era kestabilan menuju fase volatilitas tinggi, tentunya membawa dampak bagi Indonesia. Secara geopolitik dan keamanan, perang Iran - AS/Israel saat ini membawa dampak bagi Indonesia.
Salah satu dampak di bidang stabilitas ekonomi, yaitu terganggunya para investor nasional yang memiliki bisnis di Timur Tengah dan Eropa, khususnya terkait terganggunya pelayaran internasional, terganggu rantai pasok, dan kenaikan harga minyak akibat dipaksakan nya kapal dagang beralih ke rute sekitar Tanjung Harapan (Afrika Selatan) dengan waktu layar 14 hari lebih lama.
Hal ini, lanjut Nyoman, tentunya akan menambah shipping cost. “Ancaman global dan ancaman nasional akan menjadi tekanan terhadap kondisi bangsa, sehingga naluri kewaspadaan harus dimiliki oleh para peserta Lemhanas melalui Sense of Crisis, Sense of Urgency, Leverage Intelligence, penguatan diplomasi, Filtering Information dan sinergitas antar instansi”, katanya.
Lebih lanjut Pangdam XVIII/Kasuari periode 2020 hingga 2022 ini menilai bahwa Pemerintah telah menyiapkan berbagai Program Nasional untuk mereduksi potensi ancaman tersebut.
Cantiasa menyampaikan bahwa dalam menghadapi dunia yang semakin transaksional dan tidak terprediksi, Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan retorika “Non Blok dan Bebas Aktif” secara tradisional. Indonesia harus mengambil posisi netralitas aktif sebagai kekuatan penyeimbang yang memiliki Bargaining Power atas dasar posisi geografis yang strategis dan kekuatan sumber daya alam yang melimpah, serta mampu melakukan mitigasi dampak terhadap volatilitas geopolitik global.
Di hadapan 85 (delapan puluh lima) peserta P3N Angkatan XXVII Lemhannas RI, Nyoman mencontohkan negara Sri Lanka yang mengalami keruntuhan ekonomi dan ketidakstabilan politik yang dimanfaatkan oleh kepentingan asing akibat kegagalan seorang pemimpin yang tidak mampu mengintegrasikan instrumen kewaspadaan secara efektif. “Apa refleksi untuk Indonesia?” tanya Nyoman.
“Kewaspadaan nasional menjadi instrumen strategis yang berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk mencegah tekanan eksternal yang berkembang menjadi konflik internal” tandasnya.
Pada akhir ceramahnya, Danjen Kopassus ke-31 yang menjabat tahun 2019-2020 ini menawarkan konsep menata Negara dengan LeverageDIME (Diplomasi, Intelijen, Militer, dan Ekonomi) untuk mengembalikan negara ke tujuan asalnya, demi Indonesia yang lebih siap dan berdaulat. 0ferry