Grand opening tempat nongkrong bernuansa musik legendaris itu langsung dipadati para Baladewa dan Baladewi dari berbagai daerah di Jawa Timur. Atmosfer nostalgia terasa begitu kuat sejak pengunjung memasuki lokasi, mulai dari dekorasi penuh memorabilia Dewa 19, foto perjalanan band, hingga alunan lagu-lagu hits yang membangkitkan kenangan lintas generasi.
Konsep yang diusung bukan sekadar coffee shop biasa. Ahmad Dhani menghadirkan perpaduan antara kuliner, musik, komunitas, dan ruang kreatif dalam satu tempat yang diberi konsep “restography”. Sebuah ruang yang tidak hanya menjual kopi, tetapi juga menjual pengalaman emosional bagi para penggemar.
“Ini bukan hanya tempat minum kopi, tetapi tempat berkumpulnya kreativitas dan nostalgia,” ujar Dhani saat peresmian.
Surabaya dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini dikenal sebagai salah satu basis terbesar penggemar Dewa 19 di Indonesia. Militansi Baladewa dinilai menjadi kekuatan besar yang mampu menghidupkan konsep bisnis berbasis komunitas dan loyalitas penggemar.
Tak sedikit pengunjung yang datang hanya untuk berfoto dengan koleksi eksklusif Dewa 19 atau sekadar menikmati suasana sambil mengenang era kejayaan musik rock Indonesia tahun 1990-an.
Selain menghadirkan nuansa nostalgia, Kopi Dewa 19 juga menawarkan berbagai menu khas, salah satunya kopi racikan spesial yang disebut membawa cita rasa klasik ala era lawas. Konsep tersebut menjadi daya tarik tersendiri di tengah menjamurnya bisnis coffee shop modern.
Kehadiran Kopi Dewa 19 menjadi bukti bahwa musik tidak hanya hidup di atas panggung, tetapi juga mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif. Ahmad Dhani tampaknya berhasil membaca satu hal penting: loyalitas penggemar bisa menjadi energi besar yang terus hidup, bahkan di luar industri musik.