Minggu, 02 Januari 2011
Banjir Jakarta Ancaman Mematikan
Beritabatavia.com - Pemerintah kolonial Belanda membangun sejumlah infrastruktur, namun tak juga mampu mengatasi banjir. Apalagi jika pemerintah sekarang tidak berupaya, maka banjir akan leluasa menerjang rumah-rumah dan harta benda, bahkan nyawa warga Jakarta.
Tak dapat dipungkiri, kota Jakarta yang terletak di daratan rendah sangat rentan terhadap ancaman banjir. Bahkan, pada jaman pemerintahan kolonial Belanda, banjir pernah melanda hingga beberapa kali. Namun, kejadiannya tidak separah seperti saat ini.
Berdasarkan catatan, bencana banjir di Jakarta pertama kali terjadi tahun 1621. Berselang dua tahun setelah peristiwa penaklukan Jayakarta dan pembentukan Stad Batavia sebagai pusat pemerintahan VOC di Hindia Belanda. Kondisi ini cukup ironis. Karena, pada masa tersebut pemerintahan Batavia baru saja menyelesaikan pembangunan beberapa kanal yang memecah aliran Ciliwung dengan maksud melindungi Batavia dari ancaman banjir. Selain itu sebagai sarana transportasi dan penghasil air bersih mengikuti masterplan kota-kota besar Belanda.
Salah satu banjir terparah yang pernah terjadi di Batavia adalah banjir pada Februari 1918. Saat itu hampir sebagian besar wilayah Batavia terendam air.Data desertasi milik Restu Gunawan yang bersumber dari Harian Sin Po sepanjang bulan Februari 1918 bercerita cukup detil mengenai peristiwa ini.
Akibat hujan yang berlangsung secara terus menerus sepanjang bulan Januari hingga Februari 1918 sebagian wilayah Batavia yang berada di dataran rendah mulai digenangi air. 4 Februari 1918, kampung-kampung di wilayah Weltevreden mulai tergenang hingga mengakibatkan arus pengungsian penduduk ke wilayah yang lebih tinggi.
14 Februari 1918, bencana banjir yang terjadi sejak pukul 09.30 malam terus meluas. Banjir mengakibatkan kerusakan beberapa ruas jalan di daerah permukiman. Gang Pacebokan (sekitar Kampung Krukut, Jakarta Barat) sudah berubah menjadi rawa lumpur. Sedangkan di daerah Cikini, banjir telah mencapai Rumah Sakit Cikini (terletak di Jl. Raden Saleh).
16 Pebruari 1918, banjir kembali datang. Harian Sin Po menulis, jam 11.00 siang, dikabarkan air sudah naik lebih tinggi dari kemarin. Dari Jembatan Santi menuju ke Jakarta di depan Gereja Besar, orang mesti melalui air yang naik kira-kira seukuran dengkul. Sedangkan di depan Pabrik Minyak Jakarta, rel trem listrik terangkat dari tanah akibat balok kayu bantalannya mengambang. Jembatan listrik di Gunung Sahari dari jauh juga mulai kelihatan bengkok.
Wilayah Gunung Sahari hampir seluruhnya terendam, kecuali sedikit di depan Gang Kemayoran. Untuk menuju Senen, orang harus berenang hingga wilayah Kalilio (jalan ini masih ada hingga sekarang dan terletak di samping terminal Senen). Sampai di Kalilio air terlihat setinggi 50 cm. Gedung kantor Marine menjadi tempat pengungsian warga pribumi dari Gang Chambon. Gambir Wetan terendam sedikit, Kampung Pejambon sudah kerendam sejak beberapa hari. Begitu pula wilayah Gambir Lor, Gang Secretarie dan Gang Pool ikut terendam.
Sementara, di wilayah Batavia bagian barat, banjir terjadi akibat jebolnya bendungan Kali Grogol. Beberapa kampung seperti Kampung Tambora, Suteng, kampung Klenteng Kapuran, berubah menjadi empang. Satu-satunya sarana transportasi yang dapat digunakan adalah sampan dan perahu kecil.
Kondisi serupa terjadi di wilayah Kampung Pesayuran dan Kebon Jeruk. Perahu bahkan bisa berjalan di gang-gang yang biasanya digunakan sebagai jalan kereta kuda.
Akhir Februari 1918, banjir mulai surut. Keadaan Batavia berangsur-angsur normal kembali. Belajar dari pengalaman pemerintahan kolonial mulai melakukan berbagai pembenahan sistem pengendali banjir. Selain membangun beberapa infrastruktur baru, proyek pembangunan Kali Grogol, dan Pintu Air Manggarai yang dilengkapi dengan Saluran Banjir Kanal diteruskan kembali.
Namun hal tersebut sepertinya belum maksimal. Kurang dari 20 tahun sejak selesainya pembangunan proyek Banjir Kanal (1919), tepatnya tahun 1930 dan tahun 1932 beberapa wilayah Batavia kembali dilanda banjir. Meskipun tidak separah kejadian tahun 1918. Nah, Februari 2011 mendatang, apakah banjir seperti era pemerintahan kolonial Belanda, akan terjadi ? 0 Desertasi Restu Gunawan/son