Minggu, 20 Februari 2011

Dikibuli Gubernur DKI, Sepekan Mulut Terjahit

Ist.
Beritabatavia.com - Persis sepekan, mulut Ibu Lusi (53) dan Ibu Eet (45) dijahit. Warga korban penggusuran di RT 16 RW 09, Kelurahan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, tetap bertahan di sebuah bedeng berukuran 3X2
meter di pinggir Jalan Ahmad Yani, Jakarta Pusat, Ahad (20/2) petang, dengan kondisi memprihatinkan.

Keduanya berbaring terkulai lemas. Pakaiannya yang dipakai selama sepekan nampak lusuh. Darah mengering di bibirnya bekas jahitan dua benang, yang dijahit seadanya. Jahitan secara vertikal di bagian kanan dan kiri bibir yang mengering, pertanda tak ada asupan makanan dan minuman. Bahkan dipipi kiri ibu Lusi, ada bekas air yang mengiring. Pertanda wanita baya ini pernah menangis.

Kabarnya Lusi menangis, lantaran dua temannya Mak Buyung (56) dan Ardinah (55), yang juga mulutnya dijahit sudah dilarikan ke RS UKI Jakarta Timur, karena rekomendasi dokter. Keduanya dalam keadaan
kritis akibat dehadrasi, sehingga Jumat (18/2) malam digotong ramai-ramai, sebelum kondisinya makin bertambah parah.

Sampai kapan protes ibu-ibu ini berakhir? "Sampai tuntutan kami dikabulkan. Sampai perjuangan titik terakhir. Mereka rela mati demi hak-haknya yang tidak rela diambil paksa oleh penguasa dan
pengusaha, apalagi cara pengambilan itu dengan akal bulus yang membohongi rakyat kecil. Jadi kami dikibuli," papar Toib, warga Rawasari.

Warga Rawasari juga mendirikan dua tenda sebagai posko Rakyat Rawasari Menggugat, tempat warga lain menginap. Di belakang posko adalah gerbang utama sebuah apartemen Green Pramuka, yang masih dalam tahap pembangunan. Warga Rawasari protes karena merasa dibohongi oleh Pemprov DKI Jakarta terkait pembangunan apartemen itu.

Semula aksi mereka dilampiaskan dengan unjuk rasa damai, namun tak mempan.Dan salah satu jalan empat wanita tua itu menjahit mulutnya, sebagai protes bisu, mogok makan dari rakyat kecil yang tak
berdaya menghadapi penguasa dan pengusaha yang dituding sebagai tukang bohong, tukang kibul, tukang mengambil paksa hak milik rakyat.

Di dalam bedeng, mereka memasang beberapa foto. Misalnya saja foto Ibu Eet yang membawa tulisan 'Aksi Jahit Mulut Sampai Mati'. Ada pula foto Ibu Lusi yang membawa tulisan senada. Juga di lokasi, dipasang pula keranda mayat bertuliskan 'Aksi Jahit Mulut Sampai Mati'.

Mereka pun memasang tulisan 'Kami Marah Karena Ditindas', 'Aksi Mogok Makan Warga Rawasari, Kembalikan Hak Kami' dan 'Jangan Beli Apartemen Green Garden'. Spanduk Apartemen Green Pramuka milik pengembang pun ditulisi 'Bermasalah' oleh warga. Spanduk LSM Bendera juga tampak di lokasi.

Warga Rawasari menuding Gubernur DKI Fauzi Bowo (Foke) telah membohongi mereka karena lahan bekas tempat tinggal mereka, yang digusur 10 Februari 2008, sudah disulap sebagai pintu gerbang sebuah apartemen. Padahal, alasan Pemprov DKI saat menggusur, ingin menjadikan lahan seluas kurang lebih 1 hektar itu sebagai Ruang Terbuka Hijau, ruang penghijauan, juga taman bagi warga,

"Lihat plang Ruang Terbuka Hijau dan prasasti penghijauan masih ada di sana," kata Toib menunjuk papan besi dan batu yang mengapit pintu gerbang apartemen. Prasasti tertanggal 6 Maret 2009 itu ditandatangani Walikota Jakarta Pusat Sylviana Murni.

Toib mengakui warga RT 16 RW 09 yang menjadi korban penggusuran memang tidak memiliki sertifikat tanah. Namun, menurutnya, warga membayar Pajak Bumi dan Bangunan setiap tahunnya. Lahan sebelumnya sudah ditempati warga selama 30-an tahun.

"Sertifikat seharusnya ditanyakan kepada Lurah dan Camat. Ngapain nggak keluarkan sertifitkat, kok ada pajaknya. Warga disuruh bayar pajak, ya mau aja," kata Toib menambahkan sebagian besar harta benda warga juga ludes saat penggusuran.

Toib dan perwakilan ribuan warga yang sudah terpencar di penjuru ibukota menyatakan tetap bertahan sampai ganti rugi dipenuhi. "Kami akan tetap bertahan," tegasnya.

Seno, warga Rawasari mengatakan, warga melakukan aksi karena Pemerintah DKI telah membohongi warga. Dia menuturkan, 3 tahun lalu warga digusur dari tempat tersebut dengan alasan untuk pembangunan
ruang terbuka hijau (RTH). 2-3 Bulan pasca pembongkaran, Pemprov DKI mengadakan seremonial , bahkan ada acara tanam pohon segala.

"Tapi pada kenyataannya, mereka bongkar sendiri pohon-pohon ysang sudah ditanam, dirusak, lalu dibangun apartemen Green Pramuka ini. Itu tepatnya setahun lalu. Jadi kami merasa dibohongi oleh pemerintah," kata Seno kesal.

Tuntutannya apa? "Kami ingin pembangunan apartemen Green Pramuka ini dihentikan karena bermasalah. Mereka telah menzalimi ribuan warga. Kami juga meminta tanah kami dikembalikan. Kalau tidak, tanah
kami dikembalikan. Paling tidak apa yang menjadi hak kami selama 30 tahun dikembalikan," lanjutnya.

Menurut Seno, sejauh ini tidak apa upaya dialog dari pengembang. Dia mengancam, jika tidak ada dialog maka warga akan terus melakukan aksi. Warga bahkan berencana akan membangun bedeng-bedeng lagi di sekitar apartemen yang siap dibangun itu. o end