Senin, 21 Maret 2011

Lily Wahid, Cut Nyat Dhien dari Timur Jawa

Ist.
Beritabatavia.com - Bangsa ini nyaris tidak lagi memiliki wanita-wanita ‘besi’ yang berani mengangkat senjata dan menyatakan perang melawan kezoliman dan memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Seperti Cut Nyak Dhien dari Aceh yang tetap menghunus rencongnya meneruskan perjuangan suaminya melawan penjajah Belanda. Meski nyawa menjadi taruhan.
Di tengah penantian panjang kehadiran sosok perempuan yang gagah berani, muncul Lily Chadijah Wahid, bak macan betina gagah berdiri untuk mendukung pembentukan hak angket pajak. Meskipun dia menerima sebuah hadiah 'recall' dari partainya, PKB pimpinan Muhaimin Iskandar.
Proses penjatuhan recall yang diterima oleh Lily Wahid adalah buah hasil dari perlawanannya terhadap ketidaksertaannya sebagai personil koor dengan koleganya di fraksi PKB di DPR.
Lily, lebih memilih berduet dengan sejawatnya Effendy Choiry (Gus Choi) yang juga menerima kado 'recall' dari partai yang didirikan oleh mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang juga kakak kandung Lily.
Lily kelahiran Jombang 4 Maret 1948 silam mengaku tak gentar atas pemecatan dirinya sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Bahkan, Lily mempersilahkan dirinya untuk dipecat, dan mengaku tidak akan berhenti berjuang untuk rakyat. Serta, tidak akan diam atas pemecatan dirinya, justru melakukan perlawanan dengan cara menggugatnya ke pengadilan.
Seperti yang dikatakan banyak orang, dalam dunia politik ada adagium to kill or to be killed (membunuh atau dibunuh). Itulah yang saat ini sedang terjadi di tubuh PKB. Tanpa menyadari bahwa jabatan merupakan amanat rakyat yang berkaitan dengan kemaslahatan orang banyak. Bukan sebagai wahana untuk mencari kekayaan materiil pada kantong sakunya sendiri-sendiri.
Menurut Lily Wahid, PKB telah mengaburkan suara rakyat demi meraup jabatan lewat kursi pemerintahan. Dengan alasan yang klise sejumlah petinggi PKB berkilah demi mempertahankan kursinya, menggunakan embel-embel dalil agama, ataupun kemaslahatan rakyat banyak.
Namun, cucu KH Wahid Hasyim ini menolak untuk ikut terjebak dalam paragmatisme menginginkan jabatan. Keputusannya sangat fenumenal berani menetang intruksi dari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang lebih memilih jalan aman duduk di kursi kementerian negara.
Lily berada pada barisan pendukung hak angket pajak bersama rekan sejawatnya Choiri Effendi (Gus Choi) dan anggota DPR lainnya. Meskipun lewat voting penentuan pelaksanaan penggunaan hak angket pajak pada Selasa 22 Februari 2011, akhirnya pendukung hak angket kalah.
Akibat keputusan Lily Wahid yang berpisah dari kelompok koor PKB lainnya, harus menerima kemarahan ketua umum PKB Muhaimin Iskandar.
Lily yang memiliki pemikiran serupa dengan kakaknya Gus Dur sebagai tokoh pluralis, budayawan, nyeleneh, demokratis. Lily juga berani pasang badan demi rakyat, sehingga disebut sebagai ujud dari suara hati Gus Dur. Tak gentar melawan arus demi kepentingan rakyat, walaupun harus ditebus dengan pemecatan. 
Lily Chadijah Wahid tak peduli reputasi dan karier serta tudingan penghianatan partai, demi memperjuangkan kebenaran dan kepentingan rakyat.  Lily juga tak menghiraukan ancaman hadiah pergantian antar waktu (PAW) bahkan pemecatan.
Cut Nyak Dhien dari Timur Pulau Jawa ini mengatakan, apa yang dilakukannya demi kehormatan dan keselamatan partai. Karena sekarang ini mainstream PKB sangat tumpul, tak mau kritis dengan keputusan pemerintah, hanya sendiko dawuh terhadap keputusan pemerintah yang tidak pro rakyat. Lily menuding, PKB dibawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar menggunakan nilai-nilai Islam untuk mendukung kekuasaan secara tidak kritis.
Ancam Gugat
Lily inisiator Pansus Hak Angket Mafia Pajak dari PKB, bersuara lantang tak takut dipecat. “Ngapain takut dipecat, kan tak bisa semena-mena untuk menggan­ti anggota DPR. Tapi kalau itu dilakukan, saya akan menggugat dong. Tapi kalau dipecat dari PKB, itu silakan saja,” tegasnya kepada wartawan.  Lily juga mengaku tidak mundur selangkahpun, apalagi hanya untuk di takut-takuti. “Kita ini sudah tua. Sudah ca­peklah ditakut-takuti terus. Sudah nggak berarti lagi buat kita,” ujarnya. 
Sikap tegas Lily itu terbukti, dia tetap mendukung hak angket, bersama Gus Coy.  Meskipun  sebelumnya sudah mendapat wanti-wanti dari Ketua PKB Marwan Jafar yang  menginstruksikan semua anggotanya agar menolak  Pansus Hak Angket Mafia Pajak. 
Menurut Lily, pilihannya mendukung hak angket, karena itu memiliki keistimewaan. Hak angket memiliki instrumen  investigasi. Sedangkan Panja seperti yang diinginkan Partai Demokrat dan pendukungnya tidak ada, sehingga Panja tidak mungkin membongkar mafia pajak.
Lily juga yakin, banyak anggota Fraksi PKB yang setuju dengan  keputusan saya. “Saya membaca wajah mereka happy-happy aja atas keputusan saya. Namun, mereka tidak berani,” katanya.
Menurut Lily, Recal adalah resiko dari sebuah sikap. Tapi, Lily tidak akan diam, dan akan melakukan gugatan secara hukum.
Lily mengaku sudah mengetahui pemecatan dirinya  pada Sabtu 5 Maret 2011. Kemudian surat pemecatan itu dikirimkan PKB kepada ketua DPR RI Marzuki Alie pada Senin 7 Maret 2011. Sepekan kemudian tepatnya Senin 14 Maret 2011 ketua DPR RI meneruskan surat pemecatan itu ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), tanpa pembahasan di tingkat pimpinan dewan atau dibicarakan di sidang paripurna.
Terkait pemecatan tersebut, Lily lewat tim Advokasi secara resmi telah mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Rabu 16 Maret 2011.
Ketua Tim Advokasi Jhonson Panjaitan mengungkapkan Sudah mendaftarkan perselisihan partai politik ini ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor register 109/PDT.G/2011/PN.JKT.PST. 0 son

Biodata Singkat

Nama: Lily Chadijah Wahid Hasyim

Tempat/Tgl lahir: Jombang, 4 Maret 1948

Partai: PKB

Keanggotaan di PKB: Anggota Dewan Syuro

Keanggotaan di DPR: Anggota Komisi I

Suami : Indrawanto

Anak : 3 orang