Senin, 18 April 2011

Pelacuran di Batavia Virus Tradisi Eropa

Ist.
Beritabatavia.com - Tak disangka, penyakit masyarakat (Pekat) seperti pelacuran yang hingga kini masih  marak di Indonesia, berawal dari virus  tradisi Eropa yang dibawa orang-orang Mestizo (peranakan Portugis-India) ke Batavia.
Menurut budayawan Betawi Ridwan Saidi, kisah  pelacuran juga tak lepas dari sejarah berkembangnya musik keroncong pada akhir abad 17 silam. Ketika itu, para pemuda-pemudi menjadikan Jassenburg (red- sekarang bernama Jembatan Batu) berada dikawasan stasiun Jakarta Kota, sebagai tempat bersantai pada malam hari.
Di lokasi itulah, pemuda-pemudi tempo dulu  jualan suara (ngamen) sambil memetik gitar berirama keroncong, sekaligus merayu gadis-gadis yang "mejeng" di loteng rumah. Kebiasaan itu, merupakan tradisi Eropa yang dibawa orang-orang Mestizo (peranakan Portugis-India).
Kemudian,perumahan Mestizo di Jassenburg berpindah kepemilikan ke orang Tionghoa. Namun, alunan suara dan  petikan gitar berirama keroncong terus mengalun. Tapi,  gadis yang berdiri di loteng bukan lagi gadis Mestizo yang hitam manis melainkan Macao Po, gadis-gadis Macao peranakan Tionghoa-Portugis yang biasa disebut Moler artinya perempuan. Seiring dengan perjalanan waktu kemudian berubah makna dan arti dengan maksud menyebut perempuan jalang.
Karena, para perempuan Macao Po tersebut kerap dijadikan konsumsi bagi  kapiten dan letnan Tionghoa serta kumpeni berpangkat. Sementara buaya keroncong yang tak henti memetik gitar dan menyanyikan Terang Boelan, tak pernah berhasil mendapatkannya. Bahkan keberadaan para pemetik gitar itu di abaikan oleh para moler.

Dalam catatan Ridwan Saidi di Rode Lamp van Batavia tot Jakarta, menyebutkan, Jassenburg menjadi Rode lamp alias Red light atau  kawasan pelacuran kelas menengah-bawah pertama di Batavia. Lokasi itu tepatnya berada di Gang Mangga, di sebelah timur Jassenburg. Dari kawasan inilah kemudian penyakit masyarakat gang mangga berkembang. Juga biasa disebut dengan pehong (sial) karena Rode Lamp biasa di kunjungi pria yang doyan atau pria hidung belang.

Kejayaan Gang Mangga berakhir di pertengahan abad 19, kawasan itu berubah jadi permukiman penduduk dan nama Gang Mangga pelan-pelan lenyap. Kemudian, seluruh jalan yang membentang dari Jassenburg sampai ke pintu air Gunung Sahari dinamakan Mangga Doea Weg. Sebagai ganti tempat hiburan untuk mendengarkan musik, maka muncul rumah plesir milik pribadi-pribadi seperti ‘Oei Tamba Sia’ yang lantas berkembang menjadi soehian.
Kemudian, soehian pun berubah, tapi tak beda dengan rumah bordil. Sebelum rontok, di abad 20, soehian banyak membawa korban. Yang jadi korban tak lain adalah perempuan-perempuan penjaja. Sebut saja Fientje de Fenicks dari soehian di Paal Merah, Nona Bong dari soehian di Kampung Bebek, dan Aisah dari Kampung Kramat yang tewas di rel kereta api tak jauh dari Senen.

Soehian kemudian berganti menjadi kompleks Wanita Tuna Susila (WTS) yang tersebar di Gang Kaligot, Sawah Besar dan Gang Hauber, Petojo. Perempuan penjaja berkeliaran di sekitar Bioskop Alhambra sampai Jembatan Ciliwung (di depan Gajah Mada Plaza sekarang).
Di masa itu, penduduk menyebut kawasan itu sebagai Jembatan Busuk lantaran bau parfum WTS yang menyengat bercampur bau keringat yang menyebar di malam hari.Kedua gang tersebut terus berjaya bahkan hingga Jepang masuk ke Indonesia. Karena,  tentara Dai Nippon juga ikut menjadi konsumen aktif ke tempat itu. Di zaman Jepang inilah, tempat WTS makin marak bahkan hingga ke gerbong kereta api Senen.
Di masa milenium ini, lokalisasi inipun diobrak-abrik hingga penjaja seks yang masih terus dicari para pria hidung belang, terpaksa  ngetem di tempat-tempat yang tak berbeda dari zaman Jepang. Maka, jangan heran jika kasus AIDS sulit dilacak, sebab tak ada lokasi yang dilokalisir bagi penjaja dan pembeli seks. 0 berbagai sumber/son