Senin, 16 Mei 2011
Budak Dihias Untuk Pamer Kekayaan
Beritabatavia.com - “Sjahadan antara boedak-boedaknya Toean Van Der Ploegh, ada djoega satoe orang prampoean moeda, Rossina namanja jang teramat tjantik dan manis parasnja, dan dalem antero bilangan Betawi tiada ada lagi seorang prampoean jang boleh disamaken padanya. Maskipoen Rossina asal toeroenannja orang Bali, koelitnya tiada hitem, malahan poetih koening sebagai koelit langsep. Oemoernja moeda sekali, belon anem belas taoen.
Apabila Njonja Van der Ploegh pergi melantjong atau pergi di gredja, Rossina selamanja di adjak boeat bawa tempat siri. Dimana tempat ia liwat, senantiasa Rossina dipandeng dan dipoedji orang kerna eloknya. Pakeannya tiada sebrapa bagoes, sedang sadja, jaitoe badjoe koeroeng poetih pendek sampai diwates pinggang dan kain batik, aken tetapi pinggangnja jang langsing ada teriket dengan pending mas, taboer berliant.
Ramboetnja, jang item moeloes dan pandjang sampe dimata kaki, selamanja dikondei sadja di betoelan leher. Ramboet ini biasanja digaboeng dan terhias dengan brapa toesoek kondei mas bermata berliant. Semoea barang mas inten ini soedah tentoe boekan poenjanja si Rossina, tetapi ada punjanja Njonja Van der Ploegh jang soeka sekali riaskan boedak-boedaknja soepaja njata pada orang banjak bebrapa besar kekajaanja….â€
Petikan diatas adalah tulisan H.F.R. Kommer, dalam bukunya berjudul ‘Rossinna’ tentang kisah perbudakan di Batavia, yang diterbitkan pada tahun 1910.
Kisah ‘Rossinna’ salah dari sekian banyak roman klasik yang menceritakan percintaan dendam, dan perbudakan pada jaman kolonial Belanda. Saat itu perbudakan menjadi wujud nyata dan gambaran kehidupan masyarakat antara kelompok berkuasa dengan yang tertindas.
Perbudakan pada jaman kolonial Belanda berkembang sejak Jan Pieterszoon Coen berhasil merebut benteng Jayakarta pada tahun 1619. Ketika Kompeni bertambah jaya, pemilikan budak mencapai puncaknya, apalagi sistim perdagangan budak terorganisir. Perbudakan berkembang menjadi ‘kultur’ baru yang bisa digunakan untuk mengukur kekayaan dan menebak pangkat seorang pejabat VOC. Cukup hanya dengan mengetahui jumlah budak yang dimilikinya.
Perbudakan di Batavia juga menjadi sarana pamer kekayaan seseorang. Aksi pamer kekayaan dengan cara menggelar pawai budak pada hari-hari libur seperti hari Minggu. Kekayaan seseorang dapat dilihat dari panjang pendeknya deretan budak yang mengiringi sang tuan dan nyonya Belanda ke gereja. Tiap budak mempunyai tugas masing-masing, ada yang khusus membawa perlengkapan, seperti payung, bantalan kaki, kipas besar, kitab-kitab agama, tempat rokok, bahkan kotak sirih. Karena beberapa nyonya Belanda makan sirih serta benda-behda lain yang terbuat dari emas atau perak maupun ukiran mahal.
Para budak didandani dengan pakaian dan perhiasan bernilai tinggi. Namun, semua itu hanya untuk memamerkan kekayaan sang tuan dan nyonya. Karena barang-barang mewah itu hanya sekadar dipajang di tubuh para budak, kemudian diambil oleh majikan.
Maraknya perbudakan berawal dari kebutuhan tenaga kerja untuk membuat benteng Batavia. Karena, saat Jan Pieterszoon Coen mengalahkan Pangeran Jayakarta (1619), kawasan pantai ini hanya berpenduduk 350 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 80 orang berstatus sebagai tenaga kerja atau budak. Padahal, untuk membangun Batavia, dibutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak.
Ketika itu, VOC memerlukan tenaga untuk penggalian kapal, pengeringan rawa-rawa serta perapian kawasan yang dijadikan pertapakan kota. Penduduk sekitar Batavia tak bisa direkrut. Karena, mereka umumnya menyingkir dan menolak bekerja sama apalagi dijadikan budak. Mulanya kompeni mendatangkan budak dari Semenanjung India dan pulau-pulau sekitar. Ini bisa disimak di dagh register atau catatan harian klerk-klerk Kompeni yang rajin menuliskan setiap kejadian dan transaksi dagangnya.
Tercatat, kapal Goudbloem membawa 250 budak dari daratan Asia Timur. Sampai di Teluk Batavia, jumlah itu menyusut menjadi 114 orang. Kapal D‘Elisabeth pergi ke Madagaskar untuk mencari pekerja tambang buat Silida (Salido, Sumatera Barat). Dari 115 orang budak laki dan perempuan yang dibawa, tiba di pantai Sumatera Barat hanya tinggal 62 orang. Sedangkan selebihnya dikabarkan tewas dalam perjalanan.
Ketika VOC kehilangan kekuasaannya di Semenanjung India, impor manusia dari Madagaskar, otomatis terhenti. Sebagai gantinya VOC menemukan di Indonesia yang ternyata jumlahnya jauh lebih banyak. Hampir disetiap pulau nusantara ditemukan sumber “komoditi kaki duaâ€. Para budak itu berasal dari kelompok masyarakat yang dikalahkan atau orang-orang yang tak bisa membayar hutang. Kemudian perbudakan menjamur lewat calo-calo untuk dijual ke warga Belanda.
Sejak saat itulah perdagangan budak tumbuh di kalangan pribumi. Setiap kapal yang berlabuh di Batavia, untuk mengangkut dagangan tradisional seperti rempah, kayu cendana, kuda, juga dipenuhi ‘komoditi kaki dua’ atau manusia. Sebuah kapal berkapasitas 100-200 ton milik Belanda yang datang dari belahan timur nusantara menuju Batavia dengan perjalanan sekitar dua minggu, biasanya diisi sekitar 200 orang.
Daghregister 8 Desember 1657 mencatat, seorang direktur kantor dagang di Batavia, Karel Harstinck, memborong 80 budak perempuan dan laki-laki asal Pulau Solor, saat itu kapal tersebut membawa 90 orang budak (Dagh-menulisnya ‘als mede 80 a 90 stuckx schapen van daergekomen’).
Perhatikan kata stuckx, kata nominal untuk membilang jumlah budak, yang disamakan dengan benda tak bernyawa. Catatan lain menyebutkan bahwa kapal Kabeljauw pada akhir ekspedisinya telah membawa 19 budak yang sehat dan kekar. Tubuh mereka sudah dicap “VOC†(… met leer lomnaeyt met Compagnie merck getjapt).
Sultan Aceh Menolak Hadiah dari Belanda
Dagh-register ini hingga kini masih bisa dibaca dan disimpan di Arsip Nasional, Jakarta. Ekspedisi di sepanjang pantai Nieuw Guinea (kini Irian Jaya), telah berhasil merantai sejumlah penduduk asli. Bagi Kompeni, hasil dari pantai Irian Jaya ini termasuk “komoditi langka†dan, tentu saja, mahal. Mengetahui hal ini, pada tahun 1760 penguasa Batavia telah mengeluarkan izin untuk mengekspor dua orang budak Irian.
Pembelinya adalah wakil kaisar Tiongkok untuk dihadiahkan kepada sang kaisar. Dalam surat izin disebutkan ‘untuk dijadikan koleksi abdi dalem Seri Baginda Kaisar, sebagai budak yang ganjil dan aneh bentuknya’. Budak juga dijadikan untuk pelicin persahabatan atau faktor pelancar hubungan dagang.
Bahkan, saat pemerintahan Pangeran Mauritz (1621-1625), Belanda ingin memperluas perdagangan ladanya dengan Kerajaan Aceh. Biasanya, tanda pelicin yang diberikan ialah senapan atau meriam. Dan sepasang meriam pun dikirimkan, sebagai hadiah pembuka jalan. Tapi Sultan Aceh menolak hadiah meriam ini. Sultan minta dua orang budak perempuan kulit putih. Permintaan Sultan Aceh ini tak bisa dipenuhi. Rupanya lalu lintas budak hanya berjalan satu arah, budak kulit berwarna untuk tuan kulit putih.
Harga Seorang Budak
Pada awal abad ke 19, Daghregister mencatat, seorang budak yang sehat, muda, dan tampan, paling tidak, laku dijual dengan harga 90 real (real dari kata “rijsdaalderâ€, mata uang Spanyol). Sedangkan De Haan, yang menulis buku berjudul ‘de Priangan’ memperkirakan, harga sekeluarga budak (pasangan suami-istri yang masih mempunyai anak satu), berkisar 1.220 real. Harga tinggi ini disebabkan adanya harapan bahwa pasangan suami-istri ini akan beranak pinak. Anak-anak mereka, tentu saja, menjadi milik si empunya budak.
Untuk perbandingan situasi ekonomi waktu itu, dalam buku History of Java karangan Raffles, tercatat harga 1 pikul beras, di tahun 1795, cuma 2 real. Harga lada per kati, 12 sen dan kopi 8,5 sen. Maka, bisa dibayangkan betapa kayanya seorang pejabat Kompeni kalau dia memiliki puluhan bahkan ratusan budak. 0 son