Sabtu, 21 Mei 2011

Nonton Demo, 8 Aktivis Ditangkap

Ist.
Beritabatavia.com - Gara-gara menonton demo mahasiswa di Jalan Kimia, Jakarta Pusat, Sabtu (21/5), yang berakhir rusuh dengan bentrokan antara mahasiswa dan polisi, 8 aktivis ditangkap polisi. Mereka yang ditangkap dengan tuduhan tidak jelas,antara lain  Mustar, Jasman, Raiman, Elsye, Effendi Saman, Friyanto, dan Ibnu Sapari langsung dibawa ke Polda Metro Jaya.

Tak ada keterangan resmi dari Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Pusat, dan Polres Menteng terkait penangkapan itu. Bahkan hingga Sabtu petang, kedelapan aktifitas Bendera itu masih diamankan di Polda Metro Jaya

Semula aksi peringatan Reformasi 1998 oleh sekelompok aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ) di Jl Kimia, Jakarta Pusat, berjalan aman. Tiba-tiba polisi emosi karena menuding aksi itu mengganggu kelancaran jalan raya. Perang mulut tak terelakkan

Bentrokan antara pihak kepolisian dengan demonstran tak terelakan setelah beberapa petugas melakukan pemukulan terhadap beberapa demonstran yang nekat memblokade jalan.

Seketika para demonstran melakukan perlawanan dengan melempar batu ke arah polisi. Demikian juga sebaliknya, pihak kepolisian gabungan Polres Jakarta Pusat dan Polsek Menteng melepas tembakan gas air mata sebanyak lima kali ke arah demonstran sambil mengejar para demonstran menuju Kampus Universitas Bung Karno, Jl Kimia No 24, Jakarta Pusat.

Usai bentrok dengan para mahasiswa, pihak kepolisian gabungan dari Polres Jakarta Pusat dan Polsek Menteng yang bermaksud menunggu mahasiswa dipangkal Jl Kimia, tiba-tiba menghadang rombongan demonstran dari Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) yang kebetulan melintas.

Tanpa ada kompromi, seketika itu juga polisi menciduk empat aktivis ARB yang sedang memperingati Reformasi 1998 sekaligus Kebangkitan Nasional.

Tidak hanya berhenti sampai pada penangkapan aktivis ARB saja. Pihak kepolisian juga ikut menciduk empat aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) yang kebetulan sedang menonton aksi dipinggir jalan.

"Polisi terlalu berlebihan, ada kekhawatiran aksi di Kebangkitan Nasinal upaya menakut-nakuti masyarakat. Teror yang dilakukan kepolisian menunjukkan pemerintah otoriter," tegas Mustar, salah seorang aktifis yang melihat jalannya aksi dan langsung diciduk polisi saat diwawancarai wartawan. o end