Rabu, 15 Juni 2011

Penerimaan Negara dari Migas Memprihatinkan

Ist.
Beritabatavia.com - Penerimaan negara dari sektor minyak dan gas (migas) dalam 30 tahun terakhir, anjlok. Kondisi ini semakin memprihatinkan, akibat minimnya proyek lapangan migas baru dan infrastrukturnya. Pemerintah berjanji mengoptimalkan sumber yang ada sembari mengintensifkan blok-blok baru.

"Masa lalu, penerimaan migas sebanding dengan penerimaan pajak. Tahun 1970-an, penerimaan negara dari migas mencapai 70% dari keseluruhan penerimaan negara. Sayangnya dekade terakhir, tren penurunan migas terus merosot menjadi 30% dari struktur penerimaan negara," ungkap Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo di Jakarta, Rabu (15/6).

Dulu, lanjut dia, penerimaan migas bersaing dengan pajak, itu secara utuh untuk satu sub sektor. Jadi penerimaan migas tahun 70-an bisa mencapai 70%, tapi sekarang 22-30%.

Pemerintah akan terus mendorong peningkatan wilayah kerja atau blok baru yang saat ini trennya bergerak ke eksplorasi lepas pantai di laut dalam. Dari 228 wilayah kerja yang ada 52% di daratan, 48% di lepas pantai. Tapi dari 19 wilayah kerja baru 10% di daratan selebihnya di lepas pantai. Jadi bergerak ke lepas pantai, ucapnya.

Dikatakan, untuk menggarap wilayah kerja lepas pantai, sambung dia, perlu cara-cara khusus. Dibutuhkan kapal-kapal baru, seperti kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS), Platform Supply Vessel (PSV), dan Diving Support Vessel (DSV). Asas cabotage menjadi peluang bagi industri galangan dalam negeri untuk memacu produksi kapal.

Itu peluang yang bisa dibidik. Pemerintah juga memberikan skema khusus untuk kontraktor yang menggarap di laut dalam karena risikonya memang berbeda, sambungnya. o end