Minggu, 16 Mei 2010
36 Titik Tunawisma Jaksel Disensus
Beritabatavia.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta Selatan melaksanakan sensus atau pendataan penduduk terhadap tuna wisma atau orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, Minggu (16/5) dinihari. Mereka yang tinggal di bawah kolong jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau berbagai fasilitas umum lainnya tidak luput dari pendataan yang dilakukan petugas sensus penduduk 2010. Di Jakarta Selatan sendiri, terdapat 36 titik atau lokasi keberadaan tuna wisma yang menjadi target pencacahan. Dalam pelaksanaan sensus itu, BPS Jakarta Selatan menerjunkan sebanyak 60 petugas pencacah dibantu 14 personil petugas kepolisian serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Ke-36 titik tersebut diantaranya, Tebet sekitar Stasiun KA Cawang, Stasiun KA Tebet, Stasiun KA Manggarai, Pasar Tebetbarat, Pasar PSPT, Pasar Bukitduri, dan di bawah Jembatan Ciliwung. Kemudian Pasarminggu, di sekitar Stasiun KA Pasarminggu, Terminal Pasarminggu, dan terminal Ragunan. Untuk wilayah Cilandak, sekitar Terminal Lebakbulus, Pasar Pondoklabu, Pasarmede serta sekitar Jalan Fatmawati. Sedangkan wilayah Setiabudi, sekitar kolong jembatan Rasunasaid, Pasarrumput, dan Pasar Festival, Kuningan.
"Petugas sensus menyebar ke semua titik yang telah ditetapkan. Mereka terbagi menjadi 10 kelompok, yang terdiri dari 4 petugas serta didampingi oleh satu orang polisi dan Satpol PP," jelas Danang Satria, Kepala BPS Jakarta Selatan.
Difokuskan di 3 Titik
Dari ke-36 titik tersebut, petugas memfokuskan pada tiga lokasi yang kerap dipenuhi keberadaan para tuna wisma. Ketiga lokasi itu yakni, di sekitar Stasiun Manggarai, kolong jembatan Rasunasaid, dan Stasiun Pasarminggu. Karena disinyalir ketiga lokasi tersebut merupakan kawasan yang paling banyak disinggahi tuna wisma.
Pencacahan terhadap tuna wisma, menurut Danang memang sengaja dilakukan pada malam hari. Karena keberadaan mereka sangat mobile, sehingga untuk menghindari pendataan ganda atau terlewatkan. "Mereka sangat mobile sekali, jadi tidak mungkin dicacah pada siang hari. Selain itu juga untuk menghindari sensus ganda," kata Danang.
Untuk menghindari ketakutan dari para tuna wisma, sebelumnya petugas telah diberikan pengarahan agar melakukan pendekatan persuasif terlebih dahulu. Selain itu, seluruh petugas juga dilengkapi dengan rompi dan topi. "Biasanya para tuna wisma mengira ada penertiban sehingga mereka malah kabur. Untuk itu kita melakukan pendekatan persuasif dan menggunakan seragam," jelasnya.
Lokasi pertama yang disambangi petugas pada pencacahan dinihari tadi ialah sekitar Stasiun Manggarai. Saat petugas hendak mendekati taman yang terletak tepat di depan Stasiun Manggarai, beberapa warga sempat panik. Namun setelah diberi pengertian, mereka akhirnya menerima dan mau didata olah petugas. Di lokasi tersebut terdapat sepasang suami istri yang sudah lansia, yakni Kamta (70) asal Cirebon dan Sari (70) asal Bogor. Mereka mengaku tinggal dilingkungan tersebut sejak tahun 1980. "Sudah sejak lama kami tinggal di sini. Profesi kami setiap hari kami memulung," kata Kamta didampingi istrinya.
Dari pantauan petugas saat dilakukannya pendataan, tak sedikit pula dari tuna wisma yang kondisi jiwanya labil alias terganggu. Beberapa dari mereka tidak bisa mengungkapkan identitasnya dengan pasti, sehingga memerlukan bantuan orang sekitar untuk mendatanya. O brn