Rabu, 06 Juli 2011

Museum Fatahillah Perlu Direnovasi

Ist.
Beritabatavia.com - Kondisi fisik Museum Fatahillah atau Gedung Museum Sejarah Jakarta (GMSJ) di Kota Tua, Jakarta Barat sudah perlu direnovasi. Untuk menyelamatkan Stadthuis (kantor gubernur Batavia) yang dibangun Belanda pada 1712 ini, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bekerja sama dengan pemerintah Belanda melalui Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta.

Kedua pihak melakukan Memorandum of Understanding (MoU) untuk melakukan penelitian, inventarisasi dan dokumentasi kerusakan yang terdapat pada gedung tersebut.

Saat ini bangunan pada museum tersebut bagian atapnya sudah banyak yang bocor. Beberapa bagian bangunan yang terbuat dari kayu seperti pintu, jendela, serta lantai juga sudah banyak yang keropos dan hancur akibat dimakan rayap.

Pemerintah Kerajaan Belanda yang diwakili Menteri Urusan Eropa dan Kerjasama Internasional, Ben Knaapen menyerahkan dokumen penelitian, dokumentasi dan panduan konservasi (road map) Museum Sejarah Jakarta kepada pejabat Pemprov DKI Jakarta yang diwakili Deputi Gubernur Bidang Budaya dan Pariwisata, Sukesti Martono.

Menurut Sukesti Martono, ide memperbaiki kerusakan GMSJ sudah ada sejak 2000. Namun meredup dan kembali lagi digulirkan Januari 2010 dengan melakukan inventarisasi kerusakan gedung dan berlanjut sampai saat ini dengan adanya MoU tersebut.

Dengan adanya GMSJ adalah bukti bahwa zaman dahulu ada kontak antara pemerintah Indonesia dan Belanda. Karena sudah lama, kondisi GMSJ sudah banyak yang rusak sedangkan untuk penanganannya dibutuhkan dana yang cukup besar dan tenaga ahli.

"Saat ini dengan adanya MoU tersebut upaya penyelamatan gedung tersebut terbuka peluang cukup besar karena adanya kesediaan pemerintah Belanda untuk memberikan bantuan tenaga ahli dalam penelitian, dokumentasi dan panduan konservasi. Pemprov DKI Jakarta sangat menyambut positif MoU tersebut,” lanjut Sukesti.

32 Ribu Koleksi Benda Bersejarah

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budhiman menjelaskan saat ini GMSJ menyimpan sebanyak 32.000 koleksi benda bersejarah dari zaman pra sejarah dan kemerdekaan. Ini merupakan harta tak ternilai yang harus dilestarikan.

Selain itu gedungnya sendiri juga harus direnovasi. Nantinya renovasi itu melingkupi seluruh bagian seperti bagian atap, plafon, kayu, drainase dan lain sebagainya yang diperkirakan memakan waktu lebih dari tiga tahun.

“Artinya untuk pemugarannya dibutuhkan waktu yang cukup lama dan dana yang besar. Tapi soal kapan mulai pengerjaan dan berapa biayanya saya belum tahu karena menunggu hasil dari konservasi,” terang Arie.

Disinggung soal upaya pemerintah Indonesia untuk mengambil benda-benda bersejarah peninggalan bangsa Indonesia yang saat ini masih berada di negeri Belanda, Arie menjelaskan untuk masalah itu harus ada kerja sama antara kedua negara terlebih dahulu.

“Pastinya saat ini yang perlu dilestarikan dan dijaga adalah yang sudah ada di sini. Pemprov DKI Jakarta khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sangat peduli untuk melakukan perawatan seluruh gedung bersejarah yang merupakan cagar budaya, dengan mengalokasikan dana perawatan gedung,” tandasnya. O brn