Rabu, 10 Agustus 2011
Wisata Budaya di Jakarta Terabaikan
Beritabatavia.com - Djan Faridz, pemerhati budaya menilai Pemerintah DKI Jakarta tidak optimal mengembangkan wisata museum maupun wisata budaya. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta hanya gencar mempromosikan wisata belanja. Padahal, budaya merupakan daya tarik utama di bidang pariwista.
â€Memang omset Jakarta Festival Great Sale meningkat 20%. Namun, daya tarik utama negara kita adalah budayanya, bukan belanjanya,†kata Djan juga anggota DPD DKI Jakarta, di Jakarta, Rabu (10/8).
Djan mengatakan omset Jakarta Festival Great Sale meningkat dari tahun sebelumnya menjadi Rp 8,7 triliun. Besarnya pendapatan itu tak serta merta menjadi alasan pemerintah mengabaikan pengembangan wisata museum dan cagar budaya.
Pemerintah DKI Jakarta seharusnya belajar dari kota-kota besar di Eropa. Paris yang terkenal sebagai kota belanja tetap mengandalkan Museum Louvre di bidang pariwisata. Berbeda dengan pemerintah DKI Jakarta yang lebih mempromosikan wisata belanja. Termasuk, kegiatan tahunan Jakarta Fair di Pekan Raya Jakarta, paparnya.
Seharusnya, lanjut dia, pemerintah menggali dan mengembangkan nilai kebudayaan yang mampu menarik wisatawan. Sehingga, Jakarta menjadi salah satu tujuan utama wisatawan mancanegara dan domestik.
Sekarang bila kita lihat Museum Fatahillah atau Wayang, orang menyukainya. "Tapi saya yakin wisatawan tidak terpesona bahkan belum menjadi destinasi utama turis asing,†komentarnya.
Dikatakan, Jakarta, memiliki Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan, Jakarta Selatan, dan Pusat Kebudayaan Betawi di eks Kodim Jakarta Timur.
Anggaran kedua lokawisata tersebut masing-masing Rp 20 dan 36 miliar. Namun, kedua tujuan wisata tersebut belum menjadi daya tarik utama ibukota, ucapnya. o end