Senin, 15 Agustus 2011

Warga Mengeluh, TPA Bantargebang Makan Korban

Ist.
Beritabatavia.com - Semburan aroma busuk dari tumpukan sampah di TPA Bantargebang, Bekasi, menjadi santapan warga sehari-hari.

TIDAK hanya pipa gas metan hasil pembusukan sampah yang bocor dan menciderai tiga pekerja. Warga juga mengeluhkan keberadaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi.
Kapolsek Bantargebang Kompol  Gunawan membenarkan adanya peristiwa kebocoran pipa gas metan yang melukai tiga orang itu. Menurut Gunawan, pihaknya sedang melakukan penyelidikan guna mengetahui penyebab kejadian tersebut.
Guna mencegah agar tidak terjadi kebocoran dan korban jatuh. Polisi terpaksa menghentikan aktivitas di tempat produksi gas metan di Zona III TPA Bantargebang,  Kampung Ciketing RT 04/03, Bantargebang, Kota Bekasi itu.
Peristiwa itu terjadi Selasa (9/8) sekitar pukul 20.30. Saat itu, tiga pekerja PT Navigat Energy Indonesia sedang bekerja melakukan penyambungan pipa. Tiba-tiba  pipa mengalami kebocoran dan menimbulkan percikan api, dan langsung menyambar hingga membakar ketiga pekerja tersebut.

Ketiga korban masing masing-masing Deni Saputra (27) mengalami luka bakar dibagian muka dan tangan. Sementara Tony (36) menderita luka bakar tangan dan sebagian wajah, dan Samin (29) mengalami luka bakar ringan .
Menurut Kasi Humas Polsek Bantargebang, Andi Zakaria, pasca kebocoran tersebut, pihaknya terpaksa menghentikan aktivitas di tempat  produksi gas metan di Zona III TPA Bantargebang di Kampung Ciketing RT 04/03, Bantargebang, Kota Bekasi itu.
“Ditutup sampai  hasil penyelidikan akhir, dan mendapatkan kesimpulan atas kecelakaan tersebut. Kami tidak memperbolehkan untuk produksi dulu, karena takut terulang lagi kebocorannya nanti malah jadi kebakaran,” tegasnya saat dihubungi, kemarin.
Anehnya,pihak pengelola TPA membantah adanya ledakan di zona 3 TPA. Linggom Lumban Toruan salah seorang petinggi PT Godang Tua Jaya yang mengelola TPA mengatakan yang terjadi hanya  insiden kecil. Ketiga korban terkena percikan api dari sebuah mesin las. “ "Yang kayak gitu mah nggak usah ditulis," tegasnya.

Warga Mengeluh

Sementara sejumlah warga yang tinggal di sekitar TPA Bantargebang mengeluh keberadaan TPA  tersebut. Karena warga setiap hari harus menghirup udara busuk.
Dadi (32) warga Ciketing, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi mengatakan, selalu mendapat bau busuk dari sampah yang setiap hari lewat. Bahkan selalu dikerumuni lalat hijau setiap harinya. Jika disuruh memilih, lebih baik sampah ini dipindahkan ke tempat lain.
Hal yang sama juga dikatakan Gandi (30), yang mengaku mendapat Rp200 ribu per tiga bulan sebagai konpensasi sampah. Tetapi, Gandi mengaku aroma busuk yang dirasakannya tidak sebanding dengan uang konpensasi yang diterimanya.
Ungkapan kekesalan juga disampaikan warga lainnya Ade (40). Menurutnya, sebenarnya banyak orang di sekitar sini yang bekerja di TPA Bantargebang. Namun jika melihat kondisi yang ada, sebaiknya memang dipindah saja. Uang konpensasi sebesar Rp200 ribu per tiga bulan yang diberikan kepada warga dari RT tidak sepadan.
Mengenai semburan gas di zona 3 TPA, bukan yang pertama kali terjadi. "Sebelumnya juga pernah terjadi dan juga membawa korban luka-luka," kata Ade yang berprofesi sebagai keamanan sekolah.

Poniman (45) warga Cikiwul, Bantargebang, Kota Bekasi, mengaku tidak mengetahui tentang ledakan yang terjadi di sektor 3 TPA. Namun,  dia mengakui mengenai adanya uang Rp200 ribu per tiga bulan yang diberikan kepadanya sebagai konpensasi. "Sebenarnya uang konpensasi per tiga bulan itu sebesar Rp300 ribu untuk setiap KK, tetapi dipotong Rp100 ribu untuk keperluan pembangunan jalan dan tempat ibadah," kata Poniman.
Bapak dua anak itu sudah terbiasa dengan bau busuk dari sampah-sampah yang dibawa oleh ratusan truk ke TPA Bantargebang. "Bau busuk itu sudah menjadi makanan tiap hari. Hampir setiap menit sekali ada truk sampah yang lalu lalang di lokasi itu."
Sebelum membuang sampahnya, setiap truk yang datang ditimbang dan para sopir truk memberikan sejumlah uang kepada security timbangan. Pemberian uang itu tidak diketahui untuk apa, tetapi sumber Pro Batavia mengatakan bahwa uang dari sopir truk itu untuk parkir yang tidak jelas kegunaannya.0 gam