Sabtu, 24 September 2011

Petani: SBY Pentingkan Impor Pangan Ketimbang Nasib Petani

Ist.
Beritabatavia.com - Ratusan petani dari berbagai daerah yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia melakukan aksi unjuk rasa dengan sederet 16 tuntutan antara lain, menuntut perbaikan agraria yang sudah dijanjikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak 2006. Juga menuntut Presiden SBY untuk memperhatikan nasib petani Indonesia.

Tuntutan lain, Presiden SBY jangan lagi mementingkan impor pangan dan harus memperhatikan nasib petani Indonesia yang kian terpuruk. Juga meminta agar penegak hukum tidak mengkriminalisasi petani dalam kasus-kasus sengketa tanah yang kerap tidak tuntas dan menyengsarakan petani.

Selain itu, pemerintah harus membangun industri nasional berbasis pertanian, kelautan dan
keanekaragaman hayati, sehingga memungkinkan usaha mandiri, mampu membuka lapangan kerja, dan lepas dari ketetgantungan impor.

"Di Indonesia banyak sekali petani kecil, bahkan buruh tani. Ini adalah tahun terakhir SBY
untuk memperbaiki kondisi agraria, sebab tahun depan pasti sudah disibukkan dengan
persoalan pilpres dan presiden SBY semakin tidak mempedulikan nasib petani," teriak
Koordinator Aksi, Agus Ruli di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta, Sabtu (24/9).

Diakuinya Pemerintah SBy lebih memilih impor pangan ketimbang memberikan tanah kepada
petani. Padahal, kata dia, ribuan petani di negara ini masih bisa bekerja dan menghasilkan
hasil pangan yang maksimal.

Selain itu, dia juga meminta agar penegak hukum tidak mengkriminalisasi petani dalam
kasus-kasus sengketa tanah yang kerap tidak tuntas dan menyengsarakan petani.

Padahal Mahkamah Konstitusi sudah mengabulkan gugatan para petani, di mana jika petani
menuntut haknya tidak bisa dipidanakan. Dengan adanya putusan tersebut sudah terlihat
jelas, tapi nyatanya tidak seperti itu, tambahnya.

"Kami datang kesini untuk menagih tiga janji kebijakan presiden yang akan mendistribusikan
lahan bagi petani miskin, mengurangi kemiskinan dan pengadaan pangan", ujar Achmad Ya'kub Ketua SPI.

Yakub menambahkan, semua petani yang ikut berunjukrasa adalah petani miskin yang hanya memiliki 0,3 persen dari total lahan pertanian nasional sebesar 13 juta hektar.

Aksi unjuk rasa ini memperingati Hari Tani Indonesia yang bertepatan jatuh pada tanggal 24
September. Ribuan petani sebelumnya melakukan aksi di depan Istana Presiden yang kemudian melakukan long march ke Bundaran Hotel Indonesia. njuk rasa yang diikuti perwakilan petani dari Serang dan Lebak, Banten, Cirebon, Sukabumi dan Bogor. o end