Rabu, 05 Oktober 2011
20 Tahun Beroperasi, Mbahnya Copet Ketangkap
Beritabatavia.com - Tak ada yang percaya jika E Sianipar (57), pria paruh baya berprofesi sebagai tukang copet yang beroperasi di bus Kopaja dan Metromini. Saat lelaki tua ini naik bus umum, banyak yang mengira kakek-kakek ini hanyalah penumpang biasa. Justru yang luar biasa tangannya bergerak lihai menggerayangi dompet, hanphone hingga barang berharga lainnya.
Profesi ini ditekuni E Sianipar selama 20 tahun lebih, yang dijalani sendiri maupun berkelompok dengan pemuda yang dididiknya untuk mencopet. Dan selama itu, tidak pernah ketangkap polisi.
Namun sepandai-pandai menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga. "Sianipar ditangkap saat sedang menjalankan aksinya di dalam bus PPD 213 jurusan Kampung Melayu-Grogol," ungkap
Kapolsek Tanjung Duren, Kompol Dwi Indra Laksmana di Jakarta, Rabu (5/10).
Kapolsek menjelaskan berdasarkan pengakuannya mulai mencopet 20 tahun lalu, sejak dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Untuk menghidupi anak dan istrinya, Mbahnya copet ini bersedia diajak mencopet oleh sejumlah temannya.
"Katanya penghasilan yang diperoleh dari mencopet cukup untuk menghidupi empat orang anak dan istrinya. Dan katanya anak dan istri tak tahu Sianipar jadi pencopet, karena anak buahnya tidak boleh bermain ke rumahnya," katanya.
Selain E Sianipar, polisi juga menangkap Jamaludin (43), Sanggam Sibuea (46), dan Ruslani (40). E Sianipar merupakan pemain tunggal, sedangkan tiga pelaku lainnya merupakan satu kawanan pencopet yang biasa mengincar para penumpang bus Kopaja dan Metromini.
Keempat pelaku ditangkap di tempat terpisah sekitar Grogol, Tomang, Jelambar, dan Daan Mogot. Keempat daerah ini termasuk dalam zona merah.
"Untuk mengamankan daerah ini kita telah menyebar sejumlah anggota. Baik berpakaian preman maupun anggota patroli motor," jelasnya.
Patroli motor untuk mengantisipasi terjadinya aksi pelaku. Sedangkan, anggota berpakaian preman untuk pengungkapan. Para pelaku ditangkap oleh petugas kami yang sedang berpatroli,†tuturnya.
Dikatakan, modus operandi dari para pencopet ini adalah dengan mencari sasaran tas yang dibawa oleh penumpang angkutan. Di saat muatan penuh dan penumpang dalam kondisi lengah, mereka pun beraksi.
"Kebanyakan yang menjadi korban para pelaku adalah ibu-ibu, mahasiswi, pelajar wanita dan perempuan muda. Dan jarang sekali mencopet terhadap kaum lelaki," tambahnya. o ep