Rabu, 19 Oktober 2011
Sin Po Populerkan Lagu Indonesia Raya
Beritabatavia.com - Sejarah pers nasional, tidak luput dari keberadaan pers milik Tionghoa yang pernah berkembang pesat di negeri ini, selama setengah abad.
PERKEMBANGAN pers nasional dibalut sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari peran etnis Tionghoa. Berdasarkan catatan Abdul Wakhid (lembaran sejarah 1999)meskipun surat kabar Sin Po berhaluan ke nasionalisme Tiongkok, bukan berarti mereka mengabaikan perjuangan nasional Indonesia. Apalagi, kelompok Sin Po juga menolak kewarganegaraan Belanda. Mereka tetap menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia.
Pemberitaan Sin Po tidak mengabaikan peristiwa-peristiwa penting di Indonesia hingga bisa memberikan kesadaran dan inspirasi bagi perjuangan.
Dalam beberapa periode, Sin Po banyak memakai wartawan bumiputra dan juga memberikan porsi yang besar untuk pemuatan berita pergerakan nasional. Bahkan, WR Supratman juga tercatat sebagai wartawan Sin Po. Sehingga lagu gubahannya bertajuk Indonesia Raya yang menjadi lagu kebangsaan Indonesia pertama kali dipublikasikan lewat surat kabar Sin Po. Selain itu, Ir Soekarno yang kemudian menjadi Presiden pertama RI juga dekat dengan Sin Po.
Pers & Nasionalisme
Hubungan pers Tionghoa dengan nasionalisme Indonesia dapat dilihat melalui fungsi-fungsi yang dijalankan pers. Menurut Nio Joe Lan, fungsi pers bukan sekadar memberikan informasi dan penyuluhan, tapi juga memberikan pendidikan masyarakat.
Dari segi penyajian, bahasa yang dipakai pers Tionghoa peranakan adalah bahasa Melayu, sehingga secara tak langsung juga memasyarakatkan bahasa Melayu yang ketika itu sedang dikampanyekan untuk dijadikan sebagai bahasa persatuan di Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Fungsi pers Tionghoa sebagai media informasi dan pendidikan perjuangan, paling tidak ikut andil dalam menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat Indonesia kala itu.
Ancaman Bredel
Peranan pers untuk mengobarkan semangat api perjuangan sangat efektif. Namun, ancaman pembredelan dan tekanan represif pemerintah Belanda menjadi kendala bagi kalangan bumiputra untuk mengelola surat kabar yang independen sebagai sarana perjuangan untuk mengobarkan semangat kemerdekaan.
Untunglah, pengelola surat kabar Tionghoa peranakan bersikap terbuka dan memberikan tempat bagi kaum pribumi untuk belajar. Disusul dengan sikap pemerintah Belanda sejak abad 19 yang sudah mulai terbuka kepada warga pribumi untuk mengelola media cetak. Itu terlihat, ketika pujangga Keraton Surakarta, RNg Ranggawarsita (1802-1873), dilibatkan dalam penerbitan bulettin Bromomartani yang dipimpin CF Winter. Kendati isi Bromomartani hanya memuat berita-berita perdagangan dan artikel-artikel berbahasa Jawa.
Karena, saat Bromomartani memuat artikel yang menyerang pemerintah Belanda, Residen Surakarta Hendrik Mac Gilavry langsung marah. Setelah itu, RNg Ranggawarsita mundur atau dimundurkan dari Bromomartani. Tragisnya, taklama kemudian tepatnya tahun 1873 Ranggawarsita wafat dengan meninggalkan selimut misteri.
Jurnalis Pribumi Berkiprah
Memasuki tahun 1900 jurnalis pribumi mulai berkiprah. Ditandai dengan pengangkatan R Dirjatmojo menjadi editor Djawi Kanda yang diterbitkan Albert Rusche & Co di Surakarta. Kemudian Dr Wahidin Sudirohusodo menjadi redaktur jurnal berbahasa Jawa Retnodhoemilah yang diterbitkan Firma H Burning milik kolonial.
Meskipun demikian, pengamat sejarah pers nasional Subagio IN yang juga mantan wartawan kantor berita Antara menganggap bahwa media cetak yang masih berbau campur tangan kolonial bukan termasuk pers nasional.
Menurut Subagio, pers nasional adalah pers yang dikelola secara mandiri oleh kaum pribumi. Sedang koran pertama yang dianggap sebagai pers nasional pertama adalah Medan Prijaji yang terbit di Bandung tahun 1907. Berdirinya surat kabar Medan Prijaji adalah hasil kerjasama Haji Samanhudi (Wirjowikoro) dengan Raden Mas Tirtohadisoerjo. Menurut Subagio IN, surat kabar inilah yang dikenal paling lugas memprotes kolonialisme dan faham-faham kolot.
Lantas bagaimana dengan pers pribumi lainnya? Karena, sejumlah surat kabar maupun majalah pribumi lainnya yang terbit, berawal dengan menggunakan fasilitas milik kaum Tionghoa. Majalah Darmo Kondo tahun 1910 yang diterbitkan organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo, awalnya dimiliki dan dicetak oleh Tan Tjoe Kwan. Sedang redaksinya dipimpin oleh Tjhie Siang Ling yang mahir sastra Jawa (Lembaran Sejarah UGM, 1999).
Sebelum Medan Prijaji terbit, menurut catatan hidayatullah.com, Samanhudi (1868-1956) juga pernah memimpin media cetak Taman Pewarta. Sedangkan berdasarkan catatan Benny Juwono, Taman Pewarta yang terbit di Surakarta itu konon juga dicetak Shie Dian Ho, sebuah penerbitan milik Tionghoa Solo.
Bahkan, beberapa surat kabar yang terbit awalnya menggunakan modal dari hasil kerjasama dengan Tionghoa seperti Warna Warta (Semarang), Slompret Melajoe (Semarang), dan beberapa surat kabar di Sumatra serta Kalimantan.
Masih Sensitif Masalah Politik
Sementara pers milik Tionghoa berkembang sangat pesat karena didukung dengan modal dan sarana produksi percetakan, berlangsung hingga tahun 1940. Misalnya surat kabar Sin Po mampu menembus oplah hingga 25.000 eksemplar.
Ditengah perkembangan pers Tionghoa, dimana secara umum pemerintah Belanda menilai pers Tionghoa tidak berbahaya. Namun , ada juga yang terkena delik pers. Seperti yang dialami Liem Koen Hian dari Keng Po yang dikenai denda karena dianggap menghina Landraad.
Hingga saat Belanda menyingkir dan Jepang menguasai Jawa 1942, penerbitan pers banyak ditutup. Hiruk pikuk pers perjuangan jadi kendor dan akhirnya merosot.
Bahkan, jurnalis Tionghoa banyak yang ditangkap dan baru dilepas tahun 1945 ketika Jepang menyerah dan keluar dari Indonesia. Sejarah pers milik Tionghoa di Indonesia yang berbahasa Melayu atau berbahasa Tiongkok hanya bertahan sekitar setengah abad.
Namun, keberadaannya dinilai memiliki makna cukup penting bagi kaum Tionghoa sendiri maupun bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Memicu Semangat Pers Nasional
Meski berusia pendek, Abdul Wakhid menilai, keberadaan pers Tionghoa tidak dapat dipisahkan dari dinamika kehidupan masyarakat dan sejarah pers di Indonesia. â€Pertumbuhan pers Tionghoa yang bersamaan dengan bangkitnya semangat nasionalisme dan pergerakan boleh jadi membiaskan pengaruh positif dan negatif bagi perkembangan nasionalisme Indonesia. Namun demikian, melalui pemahaman yang terbuka dan bijaksana, keberadaan pers Tionghoa kala itu memberikan nilai manfaat yang positif bagi perkembangan nasionalisme bangsa Indonesia,†papar Abdul Wakhid seperti yang diuraikan dalam Lembaran Sejarah UGM, 1999.0 sutrisno/son