Kamis, 17 November 2011

Kemiskinan Diantara Kemewahan

Ist.
Beritabatavia.com - Memelihara rakyat Miskin adalah kewajiban negara, sesuai amanat konstitusi UUD. Tetapi, justru ada yang tega menimbun kekayaan, meskipun  menyusahkan rakyat miskin.

PESATNYA pembangunan di ibukota Jakarta diwarnai munculnya gedung-gedung pencakar langit, yang dijadikan perkantoran dan hunian. 
Sayangnya, keberadaan gedung-gedung pencakar langit itu tak serta merta bermanfaat bagi rakyat miskin. Justru  menjadi problematik  tersendiri yang cenderung kian mempersulit hidup rakyat miskin disekitarnya. Memang, tinggal di ‘langit’ atau Apartemen sudah menjadi  gaya hidup sebagian kecil warga kota metropolitan seperti Jakarta. Membuat   Apartemen laris manis, meskipun harga selangit.

Kehadiran Apartemen telah pula mewarnai  dinamika kehidupan, warga kota metropolitan seperti Jakarta. Sekaligus menjadi lambang untuk menunjukan status sosial seseorang sebagai orang kaya, jika sudah memiliki beberapa unit Apartemen.
Apalagi warga penghuni Apartemen harus menaati semua ketentuan yang berlaku. Sehingga, pola hidup warga para penghuni Apartemen harus disesuaikan dengan kondisi kawasannya. Secara kasat mata,  penghuni Apartemen mulai cenderung hidup dengan pola individual.
Teratur dan tertib secara formal, tanpa perlu menumbuhkan rasa kebersamaan seperti budaya Indonesia yang terkenal dengan gotong royong, serta musyawarah mufakat.
Ditambah lagi ketatnya pengamanan, sehingga kawasan Apartemen tidak bisa bisa sembarangan dilintasi kendaraan. Petugas keamanan Apartemen, biasanya dengan sigap menginterogasi untuk mengetahui maksud dan tujuan kedatangan orang yang bukan penghuni Apartemen, atau orang yang tidak memiliki akses untuk masuk.

Belum Siap Dengan Budaya Apartemen

Belum semua masyarakat Indonesia siap dengan pola hidup ala Apartemen. Seperti yang terlihat di kawasan Epicentrum Rasuna, Kuningan, Jakarta. Di kawasan elite itu berdiri puluhan Apartemen , megah, mewah, dan tertata sehingga membuat betah, walaupun hanya sekadar melintasi di kawasan itu.
Apalagi kawasan itu masih jarang dilintasi kendaraan. Sementara jejeran gedung-gedung menjulang tinggi ke angkasa dan tertata rapi. Membuat suasana alam dan lingkungan terasa asri.

Ironisnya, apartemen yang dalam stigma manusia merupakan hal yang mewah. Menjadi sebuah kontradiksi apabila jajaran apartemen itu tak lagi terlihat indah. Seharusnya, tidak lagi ada warna gedung memudar karena terkena sengatan matahari. Tidak lagi, tampak jemuran tergantung di setiap jejeran gedung. Sehingga  tak nyaman dipandang, itulah bukti belum siapnya warga menghuni Apartemen.

Apartemen yang selalu dikaitkan dengan lambang kekayaan, tak semuanya benar di wilayah tersebut. Karena, pemandangan itu tidak jauh berbeda dengan suasana di rumah susun yang kebanyakan di huni warga tak mampu,secara ekonomi.
Padahal, jika Apartemen  dibandingkan dengan rumah susun tentu berbeda jauh. Apartemen sebagai simbol kekayaan, dan rumah susun simbol kemiskinan. Simbol kekayaan itu dibuktikan dengan harga sewa  Apartemen yang sangat mahal.
Seperti harga sewa Apartemen Taman Rasuna, misalnya, berkisar Rp 5 sampai Rp 7,5 juta per unit perbulan. Sementara, harga sewa rumah susun Kemayoran, tidak sampai Rp 2 juta per unit perbulan.

Menjadi Sekat Pemisah

Secara kasat mata terlihat, maraknya bangunan pencakar langit yang dijadikan sebagai tempat tinggal, adalah penyekat atau pemisah pergaulan antara si kaya dan si miskin. Sekaligus sikap diskriminasi pemerintah terhadap masyarakat kaya dan miskin.
Karena, pemerintah lebih memilih memberikan fasilitas pembangunan gedung bertingkat untuk Apartemen. Sebaliknya, pemerintah sangat ‘getol’  menggusur warga miskin dari kota, dan memberikan lahannya untuk pembangunan gedung pencakar langit.

Perbedaan Mencolok

Perasaan miris akan timbul, jika memandang perbedaan yang sangat mencolok di sejumlah kawasan yang disesaki bangunan pencakar langit. Seperti dikawasan Setiabudi dan Kemang maupun Apartemen Jakarta Residence di wilayah Bundaran HI, Tanahabang, Jakarta Pusat. Kemudian di kawasan Jalan Gajahmada dan Hayamwuruk, serta kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. 

Kawasan itu masih disesaki hunian warga kelas menengah hingga bawah, bahkan warga yang tak punya rumah dan tinggal dipinggiran kali. Sementara ditengah kehidupan mereka, tumbuh gedung pencakar langit, yang bisa dijangkau hanya lewat mimpi.
Keberadaan hunian pencakar langit menjadi sebuah ironi dan tidak tepat sasaran. Karena, masih ada yang kondisinya tak sedap dipandang mata layaknya sebuah rumah susun. Tetapi ada juga yang pembuatannya mubazir, karena telah merampas lahan untuk rumah murah yang seharusnya menjadi program pemerintah.

Tanggungjawab Negara

Padahal, Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan rakyat miskin  dipelihara negara. Seharusnya pemerintah mengambil langkah berani memperjuangkan hak si rakyat miskin yang juga ingin menikmati hunian di pusat kota yang strategis dan terjangkau.

Pemerintah harus berani melakukan tindakan tegas dengan cara mengambil tanah mubazir yang ditempati apartemen-apartemen tadi. Jika itu dilakukan, bukan mustahil program rumah murah untuk mengedepankan rakyat miskin bisa berjalan dengan baik. Jika langkah itu dijalankan, bangsa  Indonesia akan sejahtera.
Tetapi, faktanya pemerintah terkesan membiarkan dan kurang peduli terhadap kehidupan rakyat miskin. Bahkan, ada oknum yang tega memperoleh kekayaan lewat proyek pembangunan Apartemen, tanpa sedikitpun berfikir atau merasa kesulitan yang dihadapi rakyat miskin. 0 edison siahaan