Beritabatavia.com -
Tim SAR menemukan dua korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di tebing Gunung Salak, yang tubuhnya tidak rusak. Jenazah yang relatif masih utuh itu, diangkut dan diterbangkan ke Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta, Minggu (13/5) pagi.
Dua kantong jenazah kembali tiba di landasan udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Minggu, (13/5). Jumlah kantong yang sudah sampai di Jakarta sebanyak 16, jika ditambah dengan yang tiba hari ini maka jumlahnya menjadi 18 kantong.
Belum dipastikan secara resmi identitas jenazah yang utuh. Namun dari ciri-cirinya, diduga bernama Kornel Sihombing, karyawan PT Dirgantara Indonesia.
Eko, anggota tim relawan, mengatakan identitas Kornel diketahui dari kartu tanda penduduk di dompetnya. Identifikasi cukup mudah karena kondisi tubuh Kornel masih cukup utuh sehingga foto di KTP-nya bisa dicocokkan.
Hanya ada beberapa luka di sini (sambil menunjuk paha), kata Eko saat melaporkan kondisi evakuasi terakhir ke koordinator tim gabungan, Komandan Korem Kolonel Infanteri A.M. Putranto, di Pos 1 Pasir Manggis, Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.
Juga ditemukan, satu jenazah yang diduga kuat pilot Sukhoi Superjet 100, Alexander Yablontsev. Jasad pilot berhasil ditemukan dalam kondisi utuh. Ditemukan sekitar pukul 10.00 WIB, kemarin.
Dugaan jasad yang ditemukan ini milik sang pilot adalah dari pakaian yang dikenakan. Ini terlihat dari pakaian yang dipakai. Jenazahnya tidak hancur, kata petugas Tim SAR yang enggan disebut namanya.
Anggota Tim Charlie, Sersan Satu Abdul Haris, mengatakan dugaan itu pilot karena ada parasut yang juga tersangkut di pohon. Kan kalau pilot itu pasti dipersiapkan parasut, kata dia di sekitar lokasi jatuhnya pesawat, Curug Nangka, kemarin.
Indikasi wajah yang masih dikenali, kulitnya putih, rambutnya berbeda dengan warna kulit orang indonesia. Itu orang bule. Kondisinya bagian pinggang ke bawah hancur sebagian. Bagian belakang kepala juga hancur, ucapnya.
Saat ini, jasad pilot senior yang memiliki memiliki lebih dari 14 ribu jam terbang itu sudah diangkut helikopter Tim SAR menuju Lanud Halim Perdanakusuma. Sebanyak 1.300 jam
terbang didapat Yablonstsev bersama Sukhoi Superjet 100.
Direktur Eksekutif Tim Disaster Victim Identification Indonesia Kombes Anton Chastilani mengatakan sebagian besar jasad korban yang dimasukkan ke kantong tidak lagi utuh. Tidak ada yang utuh, ujarnya.
Menurut Anton, proses identifikasi sudah dilakukan sejak Sabtu (12/5). Hanya, tim antemortem belum mendapatkan data seluruh korban.
Dari 45 korban, baru 33 data yang berhasil dikumpulkan lengkap. Data yang belum didapatkan adalah 10 warga negara asing, yang terdiri atas delapan warga Rusia, satu dari Amerika Serikat, dan satu Prancis, serta dua warga Indonesia.
Anton belum bisa memastikan kapan proses identifikasi bisa selesai. Minimal (butuh waktu) dua minggu, itu untuk identifikasi DNA saja. Proses identifikasi jenazah seperti menyusun
puzzle yang sangat besar, ujarnya.
Bantuan untuk identifikasi korban juga datang dari Rusia. Mereka mengirim empat ahli forensik patologi yang terdiri atas tiga ahli forensik dan satu ahli analisis DNA ke RS Polri.
Ketua Badan SAR Nasional Daryatmo mengatakan pihaknya terus melakukan evakuasi dengan kombinasi evakuasi darat dan udara. Menurut dia, korban Sukhoi yang sudah dibawa ke Jakarta adalah mereka yang dievakuasi dari sisi tebing.
Sebanyak 25 orang tim KNKT Rusia berangkat menuju posko pertama SAR di Cijeruk, Bogor. Mereka memilih menempuh jalur darat untuk sampai di tempat lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100. Sejak pukul 06.00 WIB, Pagi tadi tim telah melanjutkan evakuasi. o ep