Rabu, 23 Juni 2010 14:08:50

Macet, Warga Jabodetabek Pun Merana

Macet, Warga Jabodetabek Pun Merana

Beritabatavia.com - Berita tentang Macet, Warga Jabodetabek Pun Merana

Kronis, itulah kira-kira ungkapan yang pas terkait kemacetan di Jakarta, termasuk penyangga ibukota, seperti Depok dan Bekasi. Pada hari-hari kerja ...

Macet, Warga Jabodetabek Pun Merana Ist.
Beritabatavia.com - Kronis, itulah kira-kira ungkapan yang pas terkait kemacetan di Jakarta, termasuk penyangga ibukota, seperti Depok dan Bekasi. Pada hari-hari kerja hampir semua titik jalan menuju jantung ibukota macet, tak terkecuali jalan tol, meski masyarakat sudah mengeluarkan uang untuk membayar jalan tol tetap saja terjebak macet ketika pagi dan sore hari.
Bagi warga yang tinggal di penyangga ibukota seperti Bekasi, Depok, maupun Bogor yang bisa membantu jalur cepat menuju tempat kerja di Jakarta saat ini hanya satu, yakni kereta KRL. Sehingga tidak heran jika transportasi yang satu ini menjadi primadona meski tidak nyaman, bahkan banyak warga yang nekad naik di atas atap kereta. Ya, mau apalagi Pak. Satu-satunya ya pakai KRL. Murah dan cepat, meski harus berdesak-desakan dan banyak copet, ujar Teddy, warga Cilebut, Bogor.
Dia mengaku terbantu dengan KRL karena dari rumah sepeda motornya dititipkan di tempat penitipan di stasiun. Dia mengatakan, jika ada jalur busway, minimal sampai di Depok, tentu akan membantu mengurangi kemacetan. Sayangnya, busway cuma ada di Jakarta. Mestinya membangun moda transportasi itu harus terpadu, dari Pemda lalu pemerintah pusat, melalui Kementerian Perhubungan untuk mencarikan solusi kemacetan di Ibukota dan daerah penyangga itu.
Banyak faktor yang membuat ruas jalan macet, di antaranya karena jalan rusak seperti yang ada di Jalan Meruyung hingga sepanjang Jalan Raya Cinere, Depok. Akibatnya banyak warga Depok frustrasi. Pasalnya jalan yang merupakan akses yang banyak digunakan warga Depok dari arah Sawangan ke Jakarta menimbulkan kemacetan parah meski ada petugas Polisi Lalu-lintas.
Macetnya Jakarta tak lepas dari ruas jalan di Jakarta hanya 6,4 persen dari total luas wilayah. Macet sudah menjelma menjadi gambaran kehidupan kota metropolitan, khususnya Jakarta. Dalam situs allworldcars.com, Jakarta ditempatkan di urutan 14 sebagai kota termacet di dunia.
Kepala Bidang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta M Akbar mengatakan, luas jalan di Jakarta hanya sebesar 6,4 persen dibanding luas wilayah. Jumlah ini sangat jauh jika dibandingkan kota-kota besar, seperti Tokyo, London, New York, atau Paris. Di daerah tersebut luas jalan berkisar antara 15 sampai 20 persen, bahkan ada yang mencapai 30 persen, ujarnya.

Macet Memboroskan Anggaran Negara
Tak hanya soal waktu dan gangguan sosial maupun psikologis, macet secara langsung juga membakar uang negara secara rakus. Bayangkan berapa banyak subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah untuk BBM?
Untuk Jakarta saja hingga 2010 ini jumlah kendaraan bermotor berdasarkan data Badan Pembinaan Keamanan Polri, Direktorat Lalu Lintas yang dilansir Institut Hijau Indonesia, sebanyak 20.748.653 unit. Sejumlah 8.824.531 di antaranya adalah kendaraan bermotor roda dua. Mobil bus 2.103.214, mobil beban 3.128.612, dan mobil penumpang 6.692.314 unit. Kalau satu kendaraan bermotor menggunakan satu liter saja sehari dan mendapatkan subsidi Rp2000, maka jumlah subsidi yang dibayarkan pemerintah akan mencapai Rp41,497 miliar per hari. Kalau dipukul rata menggunakan 15 liter sehari, maka jumlah subsidi akan sangat luar biasa yakni Rp622,459 miliar per hari, ujar Selamet Dariyoni, Direktur Institut Hijau Indonesia.
Menurut dia, masalah kemacetan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi Pemerintah DKI Jakarta. O brn

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Rabu, 02 September 2026
Selasa, 01 September 2026
Selasa, 01 September 2026
Sabtu, 29 Agustus 2026
Rabu, 26 Agustus 2026
Senin, 24 Agustus 2026
Jumat, 21 Agustus 2026
Selasa, 18 Agustus 2026
Jumat, 14 Agustus 2026
Kamis, 13 Agustus 2026
Senin, 10 Agustus 2026
Jumat, 07 Agustus 2026