Beritabatavia.com -
Sebuah karya pembuatan Peta Gempa di Indonesia yag dikerjakan tim sembilan Plus akhirnya disahkan oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto. Dengan ditanda tanganinya Peta telah menandatangani Peta Gempa Indonesia itu, maka tugas tim yang terdiri dari Sembilan orang dan ditambah dua orang dari berbagai bidang tersebut berakhir.
Seorang anggota tim Irwan Meilano dari Geodesi ITB Bandung mengungkapkan, peta gempa yang dihasilkan itu, Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) Map.
Intinya, lanjut Irwan, peta percepatan tanah maksimum di batuan dasar sebagai akibat gempa pada suatu wilayah oleh suatu sumber gempa tertentu. Peta ini diharapkan bermanfaat untuk keperluan perancangan bangunan tahan gempa, jembatan, perencanaan wilayah, dan lainnya.
Disebutkan, gagasan pembuatan peta hazard gempa mendapat apresiasi dari Kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) dan berbagai pihak lainnya.
Seperti disampaikan Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Erick Ridzky, saat pertemuan dengan Rektor ITB, Prof. Ahmaloka beberapa waktu lalu, terkait pengarusutamaan bahaya gempa. Erick mengungkapkan, kita bisa memahami gempa tidak hanya sebagai sumber bencana, tetapi juga sebagai 'aset'. Tentu dengan memahami perilaku bumi yang kita tinggali, yang memiliki implikasi terhadap kehidupan sosial, penyelamatan jiwa, dan secara ekonomis terhadap keamanan pembangunan dan investasi.
Dengan adanya peta hazard gempa ini, sangat bermanfaat bagi pembangunan wilayah, tata ruang, keamanan investasi dan adaptasi masyarakat dalam upaya mitigasi yang diakibatkan gempa bumi.
Kami sangat mengapresiasi tim pakar gempa dan Kementerian PU dalam penyelesaian peta hazard gempa ini, katanya, Sabtu (3/7).
Adapun nama-nama anggota tim Sembilan plus masing-masing
Prof. Masyhur Irsyam (Teknik Sipil ITB - Ketua) Dr. Ir. Wayan Sengara (Teknik Sipil ITB " Wakil Ketua) Ir. Fahmi Aldiamar, MT (Litbang Jalan PU-Sekertaris) Prof. Sri Widiyantoro (Geofosika ITB) Dr. Wahyu Triyoso (Geofisika ITB) Dr. Danny Hilman (Geoteknologi LIPI) Ir. Engkon Kertapati (Pusat Penelitian Geologi) Dr. Irwan Meilano (Geodesi ITB) Drs. Suhardjono (BMKG-Geofisika) Ir. M. Asrurifak, MT (Teknik Sipil ITB) dan Ir. M. Ridwan (Litbang Kim PU)
Menurut Irwan Meilano, meskipun belum sempurna, tetapi peta ini adalah upaya terbaik yang bisa dibuat. Walaupun hanya sedikit sesar aktif yang bisa kita identifikasi: laju gesernya (secara geologis dan geodetis), perioda ulang gempa dan maksimum maknitudenya.
Karena hazard map (PSHA) yang dibuat masih jauh dari sempurna. Jadi, sangat dimungkinkan ada yang belum tercatat. Seperti kemungkinan adanya sesar aktif yang berlokasi dekat Jakarta atau Surabaya, masih belum bisa diidentifikasi dengan baik.
Irwan Meilano berharap, peta baru ini tidak menjadi akhir, tetapi awal yang baik dalam upaya bersama meminimalisasi kemungkinan bencana akibat gempa. Tentu dengan secara sistematis memetakan sumber-sumbernya, dan melakukan updating peta gempa secara berkala. Ini seperti dilakukan hampir setiap tahun oleh negara-negara maju (Jepang dan US). O aan/son