Beritabatavia.com -
Kepolisian dinilai berlebihan mengaitkan kasus perampokan toko emas menggunakan senjata api di Tambora dengan kasus perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Hal ini mengingat seluruh tersangka kasus perampokan Bank CIMB, yang ditangkap polisi dalam penyergapan di perkebunan sawit di Dolok Masihol, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara (Sumut), diduga bukan teroris.
Kami memberikan apresiasi atas pengungkapan kasus perampokan bersenjata itu, namun polisi menjelaskan dengan rinci hubungan antara pelaku perampokan Bank CIMB Niaga dengan perampokan Tambora, sebagai terduga jaringan teroris di Tanah Air, khususnya di Medan, ujar Koordinator Pusat Monitoring Politik dan Hukum (PMPHI), Gandi Parapat seperti dilansir SP, Senin (18/3).
Gandi mencurigai adanya sikap polisi mengaitkan setiap kasus perampokan besar dengan menghubungkannya sebagai teroris yang melakukan perampokan CIMB Niaga Medan, sebagai upaya untuk menutupi kasus simulator. Selain itu, upaya menutupi kekerasan oleh oknum aparat yang melanggar hak asasi manusia (HAM).
Laporan polisi yang mengaitkan kasus perampokan bank di Tambora dengan CIMB Medan, membuat masyarakat bingung. Sebab, narapidana yang sedang menjalani proses hukuman dalam kasus perampokan Bank CIMB, membantah dirinya sebagai teroris. Bahkan, para pelaku membantah mempunyai hubungan dengan Gozali, terdakwa kasus terorisme yang pernah mendapatkan keistimewaan dari aparat, katanya.
Masyarakat menafsirkan, penanganan kasus perampokan dengan terorisme, apalagi dengan munculnya kasus kekerasan oleh aparat Densus seperti dalam rekaman video yang diberikan Din Syamsuddin kepada Kapolri Jenderal Timur Pradopo, mempunyai tujuan. Ini terjadi karena lemahnya pengawasan dari semua pihak, utamanya DPR, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) maupun lembaga antikekerasan.
Menurutya, sangat ironis seorang terdakwa kasus terorisme, diizinkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Kapolri, untuk melakukan peluncuran buku. Keabsahan dari buku yang dibuat Gozali sebagai teroris itu pun sulit diakui, sebab materi yang tertuang di dalam buku tersebut, melebihi pola pemikiran seorang guru besar di universitas. Diduga, ada sesuatu di balik pengakuan itu, sebutnya. o sp