Beritabatavia.com -
Warga ibu kota Jakarta lagi-lagi disuguhkan dengan berita aksi bunuh diri yang dilakukan salah seorang warga. Aksi nekat ini masih menjadi jalan pintas untuk dilakukan orang-orang yang tengah menghadapi masalah berat.
Seperti dilakukan Kamaruzaman (18) warga Jalan Bakti RT 06/02 Kelurahan Tegalalur, Kalideres, Jakarta Barat. Diduga akibat tak lulus ujian nasional (UN) SMA di salah satu sekolah swasta beberapa waktu lalu, korban nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di kamar mandi kontrakannya, Jumat (9/7) sore.
Sebelum gantung diri, salah satu pelajar sebuah SMA swasta di bilangan Kalideres ini sempat meninggalkan pesan dalam secarik kertas. Isi surat terakhirnya yang ditujukan pada kedua orangtua dan rekan-rekannya, adalah permohonan maaf atas sifatnya yang selama ini telah menyusahkan banyak orang. Surat tersebut diselipkan korban di dalam saku celananya.
Isinya permintaan maaf kepada orangtua dan teman-temannya karena telah menyusahkan, ungkap Iptu Heru SY, Kanit Reskrim Polsek Kalideres, Minggu (11/7).
Berdasarkan keterangan dari sejumlah saksi, lanjut Heru, semasa hidupnya memang korban kerap bermasalah dengan keluarganya. Korban diketahui bersifat temperamen dan nakal. Tak jarang korban bertengkar dengan kedua orangtuanya bila dinasehati.
Puncaknya, saat korban tidak lulus ujian nasional di salah satu SMA swasta di Kalideres. Ironisnya, meski tidak lulus, korban enggan mengikuti UN ulangan. Perilaku korban makin sulit dikendalikan, kehidupannya semaunya, terbukti dengan penampilan fisik mirip anak
punk, memasang anting dan sering nongkrong di malam hari. Tak jarang pula membuat keributan di lingkungan tempat tinggalnya.
Almarhum juga pernah tidak naik kelas dua kali. Kehidupannya sedikit liar, bahkan kami curiga korban juga pecandu narkotika, karena kerap meminta uang untuk membeli obat, terang Heru.
Sayangnya saat akan dilakukan otopsi guna penyelidikan, keluarga korban menolak dan meminta jasad Kamaruzaman langsung disemayamkan di rumah duka dan dikebumikan pada hari itu juga. Keluarga korban berdalih, tidak memiliki biaya untuk mengurus otopsi dan menyelesaikan administrasi pengambilan jasad dari rumah sakit. Selain itu pihak keluarga juga menganggap hal itu musibah dan takdir yang harus dijalani anaknya. O ale