Beritabatavia.com -
Wayang Golek umumnya dikenal di Jawa Barat, terutama Cirebon, namun ada juga dipesisir Tegal, Jawa Tengah yang punya tradisi memainkan wayang golek. Seorang dalang lulusan Institut Seni Indonesia (ISI), Sri Waluyo, mengangkat cerita daerah setempat, yang merupakan legenda dari wilayah asalnya, Balamoa, Tegal.
Di desa Dukuh Sembung, jaman akhir kerajaan Majapahit tahun 1400, hidup seorang bernama Jamaludin yang merupakan anak lurah di sana. Dia terpesona dengan anak bupati, bernama Siti Sutijah. Namun dilarang oleh bupati.
'Apa yang bisa diandalkan anak seorang lurah? Harta, derajat, pangkat?
Jamaludin menjawab,' Cinta dan kesetiaan paduka'
Patih bupati menjawab,' Gombal, anak muda, kubur dalam-dalam mimpimu itu atau kau akan menebusnya dengan berjuta kepedihan'
Setelah itu Jamaludin mengirim orang ke bupati, namun utusannya itu dibakar hidup-hidup.
Jamaludin marah, dan dia menjadi perampok, untuk merampok bupati.
'Setelah itu kekayaannya dibagi-bagi ke desa Dukuh Sembung yang miskin, karena gersang dan tandus. Tambahan lagi Jamaludin punya ilmu, sehingga para tentara bupati tidak mampu menghadapinya' ujar Waluyo.
Akhirnya bupati kewalahan, dan berusaha menemui Jamaludin. 'Sudahlah, pasukanku sudah habis, aku pun sudah jatuh miskin karena kau rampok. Nah, apa yang musti kulakukan?
Jamaludin menjawab,' Aku hanya mau mati di pangkuan Siti Sutijah, anakmu'
Akhirnya bupati menyerah, dan mengizinkan Siti Sutijah, yang sebenarnya juga cinta dengan Jamaludin. Setelah bertemu, Jamaludin meregang nyawa.
Sri Waluyo bercerita, untuk mementaskan ini, dia butuh persiapan matang. 'Kalo sesajen kurang, ada saja kejadian, misalnya kebakaran'
Karena itu, setelah berziarah ke makam Jamaludin dan bertemu penjaga makam, dia diserahi tanah makam Jamaludin. 'Setiap pementasan saya harus membasahi tanah ini'
Di Tegal sendiri, menurut Waluyo, orang takut memainkan lakon ini, karena butuh persiapan dan sesajen yang lengkap, jika tidak mau ada kejadian supranatural.
Lakon bertajuk 'Jamaludin The Robber' yang dipentaskan kelompok Cing Cing Mong bekerjasama komunitas Budayaku ini akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru Jakarta Pusat pada Sabtu, 24 Mei 2014 pukul 20.00 WIB. Tiket pertunjukan dijual seharga Rp 50 ribu-Rp 150 ribu, tersedia di GKJ (tiket@gedungkesenianjakarta.co.id) dan Ibu Dibjo (www.ibudibjo.com). O brn