Beritabatavia.com -
Kepolisian dituding tidak mencontohkan mereka sebagai pengayom dan pelindung masyarakat, bahkan tindakan dan perilaku oknum aparat cenderung tidak manusiawi. Hal tersebut terungkap dalam sebuah diskusi publik saat pelantikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negerti Jakarta (UNJ) pada Jumat, lalu.
Tudingan tersebut, sebagai gambaran dari perlakuan aparat kepolisian ketika melakukan upaya paksa untuk membubarkan mahasiswa yang sedang melakukan unjuk rasa di Universitas Negeri Makassar (UNM), pada Kamis (13/11) lalu. Akibatnya, ratusan aparat kepolisian dari satuan Sabhara Polrestabes Makassar dan satuan Brimob Polda Sulsel terlibat bentrok dengan mahasiswa, hingga wartawan menjadi korban amukan massa.
Ketua Umum HMI Cabang Jakarta Raya, Arief Wicaksana, mengatakan, sangat tidak manusiawi aparat kepolisian yang mempunyai fungsi dan peran sebagai pelindung dan pengayom melakukan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan kepolisian sehingga banyak korban yang berjatuhan. Yang dilawan bukanlah musuh atau mafia tapi mahasiswa yang hanya bermodalkan buku dan pena, tetapi harus dilawan oleh aparat kepolisian dengan senjata, kata Arief.
Menurutnya, Kapolrestabes Makassar Kombes Fery Abraham dan Kapolda Sulses Irjen Anton Setiadji harus dicopot dari jabatannya. Kapolda dan Kapolrestabes harus berani mempertanggung jawabkan yang telah dilakukan anggotanya, karena aparat kepolisian sebagai pengayom masyarakat bukan musuh rakyat, apalagi anjing herder penguasa. Jadi keduanya harus dicopot dari jabatannya karena tidak mampu memimpin anggotanya dengan baik, katanya. O son