Selasa, 17 Mei 2016 11:02:50

Pengusaha Kediri Perkosa 58 Anak demi Pesugihan

Pengusaha Kediri Perkosa 58 Anak demi Pesugihan

Beritabatavia.com - Berita tentang Pengusaha Kediri Perkosa 58 Anak demi Pesugihan

Belum lagi kasus pemerkosaan YY oleh 14 pemuda di Bengkulu selesai ditangani, berita yang tak kalah mengejutkan datang dari Kediri. Sony Sandra alias ...

  Pengusaha Kediri Perkosa 58 Anak demi Pesugihan Ist.
Beritabatavia.com - Belum lagi kasus pemerkosaan YY oleh 14 pemuda di Bengkulu selesai ditangani, berita yang tak kalah mengejutkan datang dari Kediri. Sony Sandra alias Koko seorang pengusaha berusia 62 tahun diduga telah memperkosa 58 anak di bawah umur, yang semuanya berasal dari keluarga tidak mampu. Pelaku pemerkosaan melakukan hal itu untuk pesugihan atau mencari kekayaan sesuai dengan arahan sang dukunnya.

Aksi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir ini nyaris tidak pernah tercium aparat hukum jika salah seorang korban tidak angkat bicara. Korban yang kini berusia 16 tahun dan diidentifikasi sebagai AK itu menceritakan bagaimana ia awalnya diajak seorang teman bertemu dengan Sony Sandra. Ketika itu AK baru berusia 12 tahun dan masih duduk di sekolah dasar. Dalam pertemuan tersebut, AK mengaku disuruh minum pil sebanyak tiga kali.

Yang ngajak kamu bertemu Koko? Oh Ingid, teman main, umurnya 16 tahun. Bilangnya mau ngapain? Bilangnya minta temenin ingid, ternyata di sana ketemu sama Koko. Suruh naik mobil jalan ke hotel. Kamu disuruh minum obat? Iya. Dikasih tiga, jawab AK.

AK memberi keterangan kepada wartawan dalam jumpa pers hari Senin (16/5) yang dilangsungkan sejumlah aktivis yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Kediri.

AK mengatakan ia tidak kembali ke rumah selama lima hari ketika seharusnya mengikuti uji coba ujian nasional di sekolah. Ibu AK yang bekerja sebagai buruh cuci mencarinya ke pelosok Kediri dan kemudian melaporkan ke Bintara Pembinaan dan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas).

Juru bicara Masyarakat Peduli Kediri Ferdinand Hatahaean mengatakan kesaksian AK ini yang membuka tindakan bejat Sony Sandra. Keterangan para korban dan sejumlah saksi mata menyebutkan ada sekitar 58 anak berusia antara 12 hingga 16 tahun yang pernah diperkosa pengusaha keturunan Tionghoa ini. Tak jarang mereka dikumpulkan 4-5 orang sebelum dibawa ke hotel dan diberi obat-obatan yang membuat mereka tidak sadarkan diri.

Ironisnya hingga laporan ini disampaikan, hanya ada lima korban yang mengadukan perkosaan yang dilakukan pengusaha keturunan Tionghoa itu dan melanjutkan kasusnya ke pengadilan. Puluhan korban lainnya belum memberi keterangan lengkap atau bahkan tidak bersedia melanjutkan kasusnya ke pengadilan.

Ferdinand Hatahaean menduga hal ini karena kuatnya intimidasi dan sekaligus bujukan agar korban dan keluargnya tidak melapor ke aparat hukum. Ada keluarga korban yang diancam, tetapi ada pula yang ditawari uang sebesar 50 juta rupiah dan sepeda motor jika menarik laporan dan tidak menjadi saksi di pengadilan.

Ketika di sana kami menemukan fakta yang sangat mencengangkan bahwa di republic yang sebesar ini ada kasus besar,tidak tercium dan terungkap dan inilah yang membuat kami merasa bahwa ini sangat penting untuk diangkat ke permukaan, terlebih lagi kami melihat sendiri penanganan terhadap terdakwa Sony Sandra ini , kita menilai ada perlakuan khusus yang dilakukan oleh penegak hukum baik itu dari kejaksaan, kepolisian dan pengadilan, ujar Ferdinand.

Masyarakat Peduli Kediri juga mengecam keras jaksa pengadilan negeri Kediri yang masih menggunakan UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, padahal sudah ada aturan baru yaitu UU No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR yang mengurusi isu perempuan dan anak Abdul Malik Haramaen kepada VOA mengatakan Presiden Joko Widodo seharusnya turun tangan dalam kasus-kasus besar yang jelas menunjukkan darurat kekerasan seksual terhadap anak-anak. Tidak saja dengan segera menerbitkan Perppu dengan pemberatan hukuman seperti hukuman mati atau hukuman seumur hidup bagi pemerkosa, tetapi juga dengan melindungi korban dan memberi terapi untuk memulihkan trauma yang mereka derita.

Sekarang kuncinya ada di presiden, kami setuju jika pak Jokowi dalam satu dua hari ini mengeluarkan perpu karena menurut kami untuk mempersingkat dan menyikapi secara cepat situasi luar biasa ini, perpu saya kira menjadi alternatif utama bukan revisi, kata Abdul Malik.

Sony Sandra alias Koko kini sedang menjalani bagian akhir sidang pengadilan di Kediri dalam salah satu kasus perkosaan. Hakim dijadwalkan akan mengeluarkan vonis putusannya hari Rabu (18/5).

Sementara terkait dugaan perkosaan terhadap 58 anak lainnya, Masyarakat Peduli Kediri telah membuat petisi yang ditujukan kepada Presiden, DPR, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, Komisi Perlindungan Anak dan KOMNAS HAM terkait kasus ini.

 Mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat asal Jawa Timur, Lily Chodidjah Wahid menduga pelecehan seksual terhadap puluhan anak di bawah umur di Kota Kediri terkait dengan kepercayaan orang tua korban pada ilmu gaib untuk mendapat kekayaan. Lamanya kasus ini terungkap menurutnya bisa jadi salah satu buktinya.

Kasus ini, kata Lily, dilaporkan sejak 14 Juli 2015 lalu, namun tidak juga membuat masyarakat dan penegak hukum bertindak cepat. Di Kediri ini masih percaya dengan hal semacam itu (pesugihan), syarat dalam pesugihan ini adalah mereka yang masih perawan untuk diberikan pada yang bisa membayar dengan harga sepadan, kata Lily di Jakarta Pusat, kemarin.

Kebetulan orang yang diduga menjadi pelaku pencabulan adalah orang kaya terpandang di Kediri yang bernama Sony Sandra alias Koko. Masyarakat yang percaya dengan pesugihan, kata Lily, akan percaya bahwa dengan mengorbankan keperawanan anaknya akan membawa kelancaran rejeki bagi mereka yaitu bayaran yang diberikan oleh pelaku.

Sementara pelaku, tidak akan merasa bersalah karena telah memberikan imbalan untuk korban yang diperkosa. Dalam kasus ini terdapat beberapa korban yang diduga dibayar sebesar 400 ribu sampai 700 ribu rupiah.

Lily menuturkan, para korban dan orang tuanya semula menutupi kejadian ini lantaran sudah menerima uang. Namun salah satu orang tua korban berinisial AK, berani untuk melaporkan hal ini ke Polres Kota Kediri.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Komite III Fahira Idris mengatakan, peristiwa kekerasan seksual ini sudah bukan lagi pemerkosaan melainkan perbudakan
Kemarahan saya sudah sampai leher, ini masuk dalam pelanggaran HAM berat, ujarnya.

Ia mendukung hukuman mati untuk diberikan pada pelaku.Selama ini menurutnya, belum pernah terjadi terobosan hukuman terhadap pelaku pemerkosaan. Hukuman pada pelaku masih berkisar 10 tahun dan 15 tahun penjara. Harusnya gunakan pasal berlapis bukan hanya belasan tahun karena itu masih hukuman yang biasa-biasa saja, ujar Fahira. o bbs
Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 02 Januari 2020
Selasa, 31 Desember 2019
Senin, 30 Desember 2019
Rabu, 25 Desember 2019
Selasa, 24 Desember 2019
Minggu, 22 Desember 2019
Jumat, 20 Desember 2019
Rabu, 11 Desember 2019
Selasa, 10 Desember 2019
Senin, 09 Desember 2019
Sabtu, 07 Desember 2019
Kamis, 05 Desember 2019