Beritabatavia.com -
Pada 10 tahun lalu, Indonesia, salah satu negara paling terpuruk ekonominya di dunia. Sekarang, Indonesia mampu menghadapi dan melewati krisis dunia. Indonesia mendongkrak pertumbuhan ekonomi, dari minus 13 persen pada 1998, menjadi 6 persen pada 2008. Kini, Indonesia lebih utuh, lebih aman, lebih kuat ekonominya, lebih damai, lebih dinamis, dan lebih demokratis.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan hal tersebut, dalam Pidato Kenegaraan, di hadapan anggota DPR dan DPD RI, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (16/08).
Pada bagian lain pidatonya, Kepala Negara mengatakan, dalam proses yang terus berkembang ini, ekspor nonmigas Indonesia menembus US$100 miliar, APBN menembus Rp1.000 triliun rupiah. Yang tak kalah menggembirakan, cadangan devisa Indonesia lebih dari US$78 miliar, rupiah stabil, selain angka kemiskinan terus menurun.
Yang juga penting, rating kredit Indonesia, terus membaik. Lalu, rasio utang atas PDB turun secara signifikan, kini 27,8 persen, atau menjadi salah satu yang terendah dalam sejarah Indonesia. Yang paling penting, bangsa Indonesia memiliki ketahanan pangan yang semakin kuat.
Di luar itu, Presiden Yudhoyono mengungkapkan, pemerintah giat melaksanakan amanah rakyat untuk memberantas korupsi. Program antikorupsi dilakukan secara sistemik, berkesinambungan, mulai dari atas (top-down) dan tanpa pandang bulu.
Meski begitu, SBY menyadari, sebagaimana terjadi di negara-negara lain, perjuangan antikorupsi di negeri kita akan terus menghadapi tantangan dan resistensi. Namun, semua itu tidak akan mampu membuat pemberantasan korupsi patah semangat, apalagi sampai berhenti di tengah jalan. Indonesia terus berikhtiar, karena ingin melihat korupsi terkikis habis dari bumi Indonesia.
Saat banyak demokrasi di dunia runtuh dan rapuh, demokrasi Indonesia justeru semakin stabil, semakin mapan, dan semakin mengakar. Bahkan, saat konflik semakin berkecamuk di belahan dunia lain, persatuan dan perdamaian, semakin kokoh di bumi Nusantara ini.
Hasil konkret dari semua ini, bangsa Indonesia mengalami reformasi besar, juga sebuah transformasi total. Indonesia kini lebih utuh, lebih aman, lebih kuat secara ekonomi, lebih damai, lebih dinamis dan lebih demokratis, kata Presiden.
Menurut Presiden, bukti pembanding dari semua ini tidak sulit kita temukan. Di antaranya, saat dunia dirundung krisis finansial begitu dahsyat pada 2008 dan 2009, saat dunia mengalami kontraksi pertumbuhan, ekonomi Indonesia justru tetap tumbuh 6.0 persen pada 2008 dan 4,5 persen pada 2009.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia itu, ketiga tertinggi di antara G-20, setelah Tiongkok dan India, urai Presiden SBY.
Kemandirian EkonomiPresiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan, Indonesia kini berkemampuan menghadapi krisis. Semua itu, berkat kemandirian ekonomi bangsa. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah menjalankan berbagai program prorakyat yang dirancang untuk berbagai tingkatan kemampuan masyarakat.
Program tersebut, ada yang diibaratkan ikan, seperti BLT, Jamkesmas, BOS, PKH, beras bersubsidi, dan sebagainya, untuk keluarga miskin dan hampir miskin di seluruh wilayah Nusantara. Ada berupa kail, seperti PNPM Mandiri yang memberdayakan masyarakat melalui pemberian dana maksimal Rp3 miliar per kecamatan per tahun. Dana ini penggunaannya ditentukan masyarakat di tingkat desa.
SBY mengaku telah melihat kemanfaatan PNPM Mandiri untuk membangun sejumlah program rakyat di pedesaan. Di antaranya, jalan dan irigasi desa, fasilitas air bersih, budidaya lele secara bersama, pengembangan kripik pisang oleh kelompok ibu-ibu di desa, dan sebagainya.
Lainnya, program prorakyat yang diibaratkan perahu, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang menyediakan akses kredit tanpa agunan tambahan bagi masyarakat yang ingin berusaha. Dengan begitu, kata Presiden, jika seorang pedagang bakso ingin memperoleh modal usaha, gerobak baksonya itulah yang menjadi agunan.
Sampai Mei 2009, sektor perbankan telah mengucurkan KUR sejumlah Rp14,5 triliun yang disalurkan kepada lebih dari 2 juta debitur. Ke depan, pemerintah akan terus mengembangkan KUR dengan jumlah dan jangkauan yang terus meningkat, serta dengan format lebih baik.
Kemajuan lain, peningkatan kualitas manusia Indonesia. Manusia Indonesia bukan sekadar obyek pembangunan, melainkan justru subyek pembangunan. Angka harapan hidup manusia Indonesia terus meningkat dari usia 68,6 tahun pada 2004 menjadi 70,7 tahun pada 2009. Tingkat kematian bayi juga menurun, dari 33,9 per 1.000 kelahiran hidup pada 2004 menjadi 26,2 pada 2009. Angka kematian ibu turun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada 2003 menjadi 228 pada 2007.
Sesuai data yang ada, Presiden mengungkapkan, tingkat buta huruf (penduduk usia 15 tahun ke atas) pada 2008, juga telah menurun hingga 7,9% dibandingkan 2004 yang 9,6%. Secara keseluruhan, indeks pembangunan manusia Indonesia meningkat dari 68,7 pada 2004 menjadi 71,1 pada 2008.
O pic/nor