Jumat, 02 September 2016 17:54:49

Bandara Soekarno-Hatta bertolak Belakang Cegah Virus Zika

Bandara Soekarno-Hatta bertolak Belakang Cegah Virus Zika

Beritabatavia.com - Berita tentang Bandara Soekarno-Hatta bertolak Belakang Cegah Virus Zika

 Langkah pencegahan masuknya wabah virus Zika ke Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten belum berjalan serius. Sejumlah ...

  Bandara Soekarno-Hatta bertolak Belakang Cegah Virus Zika Ist.
Beritabatavia.com -
 Langkah pencegahan masuknya wabah virus Zika ke Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten belum berjalan serius. Sejumlah program pencegahan yang dicanangkan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas 1 Soekarno-Hatta bertolak belakang dengan fakta yang ditemukan.

Dokter KKP Soekarno-Hatta, Edih Suryono mengklaim mencanangkan tiga program untuk mencegah wabah virus Zika masuk ke Indonesia. Pertama, mengaktifkan thermo scanner atau alat pendeteksi suhu badan. Seluruh penumpang pesawat yang mendarat dari Singapura diarahkan berjalan melalui alat ini. Penumpang yang suhu badannya melebihi 37,5 derajat celcius akan diminta untuk menjalani pemeriksaan medis.

Kedua, KKP Soekarno-Hatta memasang spanduk yang berisi peringatan terkait gejala dan bahaya virus Zika. Spanduk itu diharapkan dapat memberikan edukasi ataupun penjelasan kepada penumpang yang berasal dari daerah rawan virus Zika. Ketiga. KKP Soekarno-Hatta membagikan health alert card atau kartu kewaspadaan di setiap pintu masuk bandara. Program ini sesuai arahan Kementerian Kesehatan, demi meningkatkan kewaspadaan terhadap adanya kemungkinan virus Zika masuk ke Indonesia.

Kartu ini penumpang asal Singapura diminta menjelaskan kondisi kesehatan saat tiba di Indonesia. Penumpang juga diminta menuliskan keluhan penyakit yang tengah diderita dalam kartu ini. Mereka (penumpang) harus tahu tentang virus Zika. Kita beri informasi hal-hal apa yang perlu diketahui penumpang terkait virus Zika, kata Edih seperti dilansir CNNIndonesia.com, Jumat (2/9/2016).

Kartu kewaspadaan, lanjut dia, dapat dimanfaatkan oleh penumpang bila mengalami gangguan kesehatan dalam waktu 14 hari, setelah tiba di Tanah Air. Kartu tersebut akan mempermudah pihak rumah sakit atau klinik untuk mengambil tindakan medis.

Ternyata fakta di lapangan bertolak belakang. Ketidakseriusan dalam menjalankan program pencegahan virus Zika yang telah dicanangkan oleh KKP Soekarno-Hatta, kontras terlihat. Contohnya, thermo scanner yang berfungsi hanya yang berada di Terminal Kedatangan 2 E. Sementara yang berada di Terminal Kedatangan 2 D, tidak bisa mendeteksi suhu badan penumpang.

Padahal, menurut informasi yang diberikan pihak Manajemen Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, penumpang asal Singapura mayoritas mendarat di Terminal Kedatangan 2 D. Kemudian, terkait spanduk peringatan bahaya virus Zika. Spanduk itu hanya ada di Terminal Kedatangan 2 E. Sementara di Terminal Kedatangan 2 D, yang terlihat justru spanduk peringatan wabah virus Mers CoV.

Bahkan, spanduk peringatan virus Zika di Terminal Kedatangan 2 E belum diperbarui, peringatan yang tertera dalam spanduk itu masih diperuntukkan bagi penumpang asal Amerika Latin. Padahal, saat ini, wabah virus Zika diwaspadai masuk dari Singapura.

Begitu juga terkait kartu kewaspadaan. KKP Soekarno-Hatta hingga saat ini belum membuat kartu kewaspadaan terkait virus Zika. Kartu kewaspadaan yang ada saat ini hanya terkait virus influenza dan Mers CoV.

Saat dikonfirmasi terkait hal ini, pihak KKP Soekarno-Hatta mengaku belum membuat kartu kewaspadaan virus Zika. Ketidakseriusan KKP Soekarno-Hatta mengantisipasi masuknya virus Zika dari Singapura juga semakin terlihat saat dua orang penumpang asal Singapura yang baru mendarat dengan maskapai Lion Air, Rajid Patriawal dan Dhea Surya Saraswati.

Rajid mengaku hanya pernah mendengar virus Zika. Namun, ia tidak mengetahui bahaya wabah tersebut. Perjalanannya dari Singapura menuju Jakarta pun berlangsung biasa saja. Rajid mengaku tidak mendapatkan kartu kewaspadaan, sebagaimana program yang telah dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan dan KKP Soekarno-Hatta. Cuma pernah dengar saja (virus zika). Tadi tidak ada diberikan (kartu kewaspadaan), ucapnya.

Senada, Dhea juga mengaku tidak mengetahui secara detail tentang virus Zika. Ia pun tidak tahu bahwa seorang warga negara Indonesia di Singapura telah terjangkit virus Zika. Saya cuma tahu itu virus awalnya dari Brasil ya. Tapi tidak tahu sampai sejauh mana, katanya.

Sudah hampir satu tahun, virus Zika menghebongkan dunia. Padahal, virus Zika sudah ada sejak tujuh dekade lalu, tepatnya pada 1947. Namun, pada November 2015, virus Zika kembali terdengar setelah Brasil mengumumkan Zika sebagai masalah darurat kesehatan nasional.

Dinas Kesehatan Singapura mengkonfirmasi kasus pertama Zika terjadi pada akhir Mei 2016 yang diidap pria yang awal tahun 2016 mengunjungi Sao Paulo Brasil. Dan, hingga kini jumlahnya meningkat cepat menjadi 115 kasus.

Vikas Swarup, juru bicara Kementerian Luar Negeri India mengatakan 13 warga negara India yang berada di Singapura dinyatakan positif virus zika. Bahkan Malaysia " negara tetangganya juga mengonfirmasi kasus pertama Zika menimpa warga Malaysia usai mengunjungi Singapura selama tiga hari sekitar dua pekan lalu.

Tidak ingin kecolongan, Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan travel advisory atau imbauan bagi warganya agar tidak bepergian, berwisata ke Singapura. Travel advisory itu dikeluarkan terkait merebaknya virus zika di Singapura. Jika tetap memaksa tetap ke Singapura, hendaknya meningkatkan kewaspadaan mengingat virus Zuika terus menghantui. (*/CIO)
Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 02 Januari 2020
Selasa, 31 Desember 2019
Senin, 30 Desember 2019
Rabu, 25 Desember 2019
Selasa, 24 Desember 2019
Minggu, 22 Desember 2019
Jumat, 20 Desember 2019
Rabu, 11 Desember 2019
Selasa, 10 Desember 2019
Senin, 09 Desember 2019
Sabtu, 07 Desember 2019
Kamis, 05 Desember 2019