Kamis, 19 Januari 2017

Kebal Hukum, Pengusaha Tambang Terduga Pelaku Perkosaan

Kebal Hukum, Pengusaha Tambang Terduga Pelaku Perkosaan

Beritabatavia.com - Berita tentang Kebal Hukum, Pengusaha Tambang Terduga Pelaku Perkosaan

KASUS pemerkosaan yang diduga kuat melibatkan direktur perusahaan tambang galian C di Donggala, Sulawesi Tengah, hingga saat ini belum kunjung ...

Ist.
Beritabatavia.com - KASUS pemerkosaan yang diduga kuat melibatkan direktur perusahaan tambang galian C di Donggala, Sulawesi Tengah, hingga saat ini belum kunjung menemui titik terang bahkan pengusaha itu kebal hukum. Terbukti hingga kini pelaku dibiarkan bebas berkeliaran oleh pihak Polres Donggala.

Ketua Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKPST), Soraya Sultan, di Palu, Kamis (19/1), mengatakan, atas laporan kasus pemerkosaan, pihak Polres Donggala sama sekali tidak ada iktikad baik untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut. Bahkan, pelaku yang seharusnya ditahan dibiarkan bebas berkeliaran dan saat ini sedang melaksanakan umrah ke Tanah Suci.

Menurut Soraya, alat bukti atas kasus pemerkosaan yang dilakukan Direktur PT Sinar Mutiara Megalitindo sudah cukup lengkap, mulai dari hasil visum, pemeriksaan psikologis korban, serta bukti kekerasan lainnya. Dari pihak penyidik, seperti dituturkan Soraya, juga sudah melakukan rekonstruksi kasus. Namun, disayangkan tidak ada upaya tegas dari pihak Polres Donggala untuk segera bertindak. "Seharusnya unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Donggala berupaya maksimal untuk membantu dalam penyelesaian kasus, tapi sampai saat ini tidak ada kejelasan," ungkapnya.

Sementara itu, kuasa hukum KPKPST, Salma Masri, menambahkan, sudah hampir tiga bulan sejak kasus pemerkosaan dilaporkan ke Polres Donggala tidak ada titik terang. Bahkan belum ada penetapan tersangka, sehingga pelaku bebas berkeliaran.

Salma membeberkan bahwa pihak Polres Donggala pernah menyarankan agar kasus pemerkosaan atau kekerasan seksual ini diarahkan ke pasal perzinaan. Padahal, sudah sangat jelas dari alat bukti yang ada, kasus yang dilakukan oleh direktur perusahaan tambang itu melanggar Pasal 285 KUHP yaitu pemerkosaan.

"Pelaku seharunya wajib lapor, tapi saat ini sejak 2 Januari 2017 yang bersangkutan justru berangkat umrah. Ini sangat jelas ada permainan antara pihak kepolisian dan pelaku yang notabene seorang pengusaha. Kasus sudah jelas pemerkosaan, kok minta diarahkan ke pasal perzinaan sementara alat bukti juga cukup kuat," tegasnya.

Salma menyebutkan, kasus pemerkosaan yang dialami korban N dilaporkan pada 21 Oktober 2016 dengan nomor laporan LP/103/SPKT-III/2016. Sejak dilaporkan belum juga ada penetapan tersangka.

Adapun komunikasi pihak tim pendamping, dalam hal ini KPKPST, dengan pihak penyidik, bahwa pihak penyidik menunggu hasil tes psikologi. Jika hasil tes tersebut menguatkan, penyidik segera melakukan gelar perkara dan penetapan tersangka.

Namun, kata dia, sejak dikeluarkan hasil tes yang menyatakan kesimpulan bahwa korban mengalami masalah psikologis menderita gangguan depresi dan stress pascatrauma, status tersangka belum ditetapkan atas terlapor. "Tambah mengecewakan pihak korban mendapat berita bahwa terlapor berangkat umrah dan hal tersebut diketahui oleh penyidik," ujarnya.

Menurut pengakuan keluarga korban, kata Salma, tim kuasa hukum terlapor sempat menemui keluarga untuk berdamai dengan menawarkan uang sebesar Rp40 juta. "Kalau melihat itu, berarti pelaku bersalah dan ada niat menyuruh keluarga korban untuk menarik laporan dengan iming-iming uang. Oleh karenanya kami meminta kepada Polda khususnya Mabes Polri untuk menanggapi kasus ini," tandas Salma.

Secara terpisah, Kapolres Donggala AKB Guntur yang dimintai konfirmasi mengaku masih mengembangkan penyelidikan kasus tersebut. "Penyidik kami masih dalam pengembangan, ini bukan dibiarkan. Dan keluarga korban sudah tahu kalau masih dalam pengembangan," singkatnya. o mio

Berita Lainnya
Selasa, 05 Maret 2019
Senin, 04 Maret 2019
Sabtu, 02 Maret 2019
Jumat, 01 Maret 2019
Kamis, 28 Februari 2019
Selasa, 26 Februari 2019
Minggu, 24 Februari 2019
Jumat, 22 Februari 2019
Rabu, 20 Februari 2019
Selasa, 19 Februari 2019
Selasa, 19 Februari 2019
Senin, 18 Februari 2019