Beritabatavia.com -
Kepemimpinan Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) dinilai adalah masa terburuk yang pernah dialami Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Sehingga, Polri ke depan akan lebih sulit, apalagi,hingga dipenghujung masa jabatannya, Jenderal BHD banyak meninggalkan masalah.
Berbagai persoalan datang silih berganti, seperti perseteruan Polri dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memunculkan istilah perseteruan antara cecak vs buaya. Disusul dengan sikap membangkang yang di pertontonkan oleh mantan Kabareskrim Komjen Susno Duaji serta sejumlah permasalahan lainnya.
Bahkan,misteri menghilangnya Kapolri hingga kini masih teka-teki. Sejak dikabarkan sakit Jumat (13/8) hingga Minggu (15/8), belum ada penjelasan resmi dari polisi. Setelah Kapolri muncul dalam acara sertijab sejumlah jabatan strategis Polisi Senin (16/8) lalu, humas Mabes Polri baru mengakui kalau pihaknya sempat berbohong.
Kemudian saat lulusan AKPOL 1974 itu muncul pada upacara kenegaraan peringatan 17 Agustus di Istana Negara, juga tidak bersedia menjelaskan secara rincil ihwal peristiwa yang dialaminya. Bahkan, saat ditanya penyakitnya, Kapolri menjawab penuh teka-teki, Tidak, sakit biasa aja. Insya Allah sehat, kata Kapolri. Diakhir kata-katanya Kapolri mengucapkan, Selamat hari kemerdekaan ya, katanya meninggalkan wartawan.
Mantan perwira menengah (Pamen) Polri sekaligus Pengamat dan pengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Bambang Widodo Umar mengatakan. misteri hilangnya Kapolri selama beberapa hari itu sangat meresahkan seluruh jajaran Polri. Dia menilai, pola komunikasi yang dibangun Polri sangat memprihatinkan, sehingga membuat masyarakat dan jajaran Polri kebingungan. Respon dan pola komunikasi internal kepolisian sangat memprihatinkan. Masyarakat semakin kehilangan respek terhadap polisi, kata Bambang.
Sementara di tempat terpisah, anggota komisi III DPR RI Nasir Djamil juga menyesalkan kejadian menghilangnya Kapolri . Apalagi, kasus itu memunculkan beragam rumor. Mulai dari Kapolri bunuh diri, Kapolri dimarahi SBY, Kapolri diancam teroris, dan sebagainya.
Menurut Nasir, model pengelolaan informasi Polri harus segera dievaluasi. politisi senayan itu mengatakan, model komunikasi Polri sekarang sangat membingungkan publik. Dia (Kapolri) kan mau pensiun, seharusnya meninggalkan sesuatu yang menimbulkan trust pada publik. Kalau meninggalkan bom waktu, Polri kewalahan untuk mengembalikannya, kata Nasir.
Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti juga melontarkan kritik pedas.Menurutnya, Polri masih tetap sulit merubah manajemen menjadi manajemen sipil. Saya menilai, Kapolri saat ini memang yang terburuk. Tidak visioner dan tidak ada gebrakan yang terbaru untuk mereformasi Polri menjadi lebih memasyarakat, kata Ray.
Ray Rangkuti yang sempat melaporkan hilangnya Kapolri ke Kontras pada Senin (16/8 lalu, menilai, di penghujung masa jabatannya Jenderal BHD tidak banyak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, malah meninggalkan banyak masalah. Transparansi di tubuh kepolisian yang sebelumnya sudah mulai membaik, kini tertutup lagi. Dia mencontohkan kasus Susno Duadji dimana banyak rekayasanya.
Kemudian penanganan kasus terkait rekening 'gendut' sejumlah perwira tinggi Polri, yang proses penyelesaiannya tidak jelas. O son