Kamis, 31 Agustus 2017 13:55:48

Didiskriminasi, Jakarta Tak Ramah bagi Disabilitas

Didiskriminasi, Jakarta Tak Ramah bagi Disabilitas

Beritabatavia.com - Berita tentang Didiskriminasi, Jakarta Tak Ramah bagi Disabilitas

CATUR Sigit Nugroho, 35, tampak kesulitan membelokkan kursi rodanya di atas trotoar ketika hendak memasuki Jalan Kebon Sirih dari arah Jalan H Agus ...

  Didiskriminasi, Jakarta Tak Ramah bagi Disabilitas Ist.
Beritabatavia.com - CATUR Sigit Nugroho, 35, tampak kesulitan membelokkan kursi rodanya di atas trotoar ketika hendak memasuki Jalan Kebon Sirih dari arah Jalan H Agus Salim, Jakarta Pusat, kemarin. Berkali-kali ia mencoba, berkali-kali pula ia gagal. Kursi rodanya tidak bisa melewati tiang-tiang pengaman kendaraan (bollard) setinggi 1 meter lebih.

Enggak bisa masuk saya. Enggak muat, keluhnya. Beruntung seseorang membantu Catur mendorong kursi roda untuk melintas di trotoar.
Wajah Catur tampak kelelahan setelah itu.

Catur penyandang disabilitas mempertanyakan mengapa kursi roda yang sudah di modifikasi dari lebar 80 cm menjadi 65 cm tetap tidak bisa menembus tiang-tiang bollard.

Catur sendiri memodifikasi kursi rodanya supaya bisa bergerak lebih lincah. Namun, setelah kursi dimodifikasi, dirinya tetap tidak leluasa menggunakan fasilitas trotoar. Sudah dikecilin 15 cm tetap tidak muat, kata dia.

Bukan hanya di kawasan Jakarta Pusat, Catur yang tinggal di Jakarta Timur juga kerap kesulitan mengakses trotoar, misalnya di Jalan Dewi Sartika. Di sana, dirinya harus bersaing dengan pengendara motor yang nekat mengokupasi trotoar lantaran tidak ada bollard. Di Tanah Abang lebih parah lagi. Saingan saya kambing sekarang yang dijual di atas trotoar, kelakarnya.

Kesulitan serupa dirasakan Ariani Soekanwo, 71, penyandang tunanetra, saat mencoba meraba yellow line (ubin penunjuk) di Jalan H Agus Salim atau Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Wanita yang juga Ketua Gaun (Gerakan Aksesibilitas Nasional) itu keheranan saat yellow line terputus di tengah jalan. Lo kok hilang? Saya ke mana nih? kata dia kebi­ngungan.

Lima penyandang tuna­netra lainnya juga kebingung­an saat menelusuri Jalan Kebon Sirih ke arah Balai Kota DKI Jakarta di sisi kiri dari arah Tanah Abang. Nah, di sini malah enggak ada petunjuk sama sekali, kata salah satu di antara penyandang tunanetra. Terpaksa mereka berjalan saling memegang pundak.

Nampaknya, trotoar di sekitar Jalan Sabang memang tidak ramah bagi penyandang disabilitas. Trotoar itu mengharamkan bagi para disabilitas melintas di kawasan itu. Diskriminasi bagi para catat tubuh bukan hanya terjadi di jalan Sabang, hampir sluruh wilayah Jakarta tidak nyaman dan aman bagi penyandang cacat fisik.

Di beberapa titik yellow line terputus. Pengerjaan proyek di samping Max One Hotel, misalnya, menyebabkan yellow line lenyap lantaran keluar masuk kendaraan proyek. Ada trotoar yang digunakan untuk parkir, lalu ada yellow line yang teksturnya sudah tak teraba, trotoar yang berlubang, dan masih banyak lagi, kata Ariani. o mio








Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 02 Januari 2020
Selasa, 31 Desember 2019
Senin, 30 Desember 2019
Rabu, 25 Desember 2019
Selasa, 24 Desember 2019
Minggu, 22 Desember 2019
Jumat, 20 Desember 2019
Rabu, 11 Desember 2019
Selasa, 10 Desember 2019
Senin, 09 Desember 2019
Sabtu, 07 Desember 2019
Kamis, 05 Desember 2019