Selasa, 25 September 2018 10:26:34

Suara Rakyat

Suara Rakyat

Beritabatavia.com - Berita tentang Suara Rakyat

Vox Populi Vox Dei atau suara rakyat adalah suara Tuhan, istilah berbahasa Latin itu akan semakin popular dan bergema jelang tahun politik. Seperti ...

Suara Rakyat Ist.
Beritabatavia.com - Vox Populi Vox Dei atau suara rakyat adalah suara Tuhan, istilah berbahasa Latin itu akan semakin popular dan bergema jelang tahun politik. Seperti pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) , baik itu Pilpres, Pileg maupun  Pilkada hingga pemilihan kepala desa dan ketua RT.
Sebab, suara rakyat menjadi penentu hasil dari pelaksanaan sebuah pemilu. Pada musim Pemilu, suara rakyat menjadi barang mahal yang terus diburu para pencinta kekuasaan. Membuat rakyat seperti tersanjung meskipun sesaat, karena suara rakyat begitu penting dan sangat penting.

Kendati rakyat mengerti, suaranya hanya digunakan untuk melegalisasi kekuasaan dan tidak lagi dibutuhkan atau diperlukan usai pesta perebutan kekuasaan, tetapi rakyat tidak mampu menolaknya. Meskipun rakyat memahami  apa saja yang dilaksanakan oleh penguasa pasca pengumpulan suara, bahkan menggunakan suara rakyat untuk menghukum serta menuduh mengganggu keamanan, melakukan penghasutan hingga penghinaan bahkan makar terhadap penguasa yang sah, tetapi rakyat pasrah.

Pasca pengumpulan suara rakyat, tak lagi ada sanjungan, apalagi perhatian. Suara rakyat seperti gema teriakan digurun pasir tidak ada yang mendengar,semua kembali kepada kehidupan masing-masing. Negara dan pemerintah seperti bukan lagi bagian dari rakyat hingga masa pemilu mendatang.

Padahal rakyat berharap istilah Vox Populi Vox Dei yang popular itu berlaku sepanjang jaman. Penguasa yang dipilih rakyat itu harus mendengar suara rakyat dan dijadikan landasan untuk melaksanakan programnya. Rakyat ingin setiap kebijakan penguasa yang dipilihnya hendaknya pro rakyat.

Sayangnya, suara rakyat tercecer dan terselip ditengah kesulitan yang terus menderanya. Suara rakyat hanya keluhan yang mengambang,melayang karena tak lagi didengarkan.
 
Seperti suara Darman warga Jakarta yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir taksi warna hijau . Darman gelisah dan gerah meskipun taksi yang dikemudikannya sejuk. Dia mengaku hanya pasrah atas kesulitan hidup dan kehidupan yang dijalaninya. Darman bertanya, ditengah harga-harga kebutuhan pokok yang semakin tak terjangkau, apakah pemimpin yang kami pilih itu hadir ?

Tidak ! kata pria berusia 50 tahun itu menjawab. Tidak hanya alpa atas janjinya saat kampanye, tetapi mengabaikan dan membiarkan rakyat tersungkur hanya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Justru kebijakan pemimpin yang dipilih rakyat itu, semakin menjauhkan rakyat dari kehidupan yang layak.

Darman memastikan, sulit dan kesulitan saat ini dialami dan dirasakan jutaan rakyat kelas ekonomi lemah atau yang senasib dengan dirinya. Tetapi, hingga penghujung masa kekuasaannya, kebijakannya hanya pada kepentingan kelompok ekonomi menengah ke atas. Kebijakannya tidak pro rakyat kecil yang berdampak langsung untuk meningkatkan taraf kehidupan rakyat kecil. Menurut Darman, pembangunan infrastruktur itu penting, tetapi orientasinya tidak bisnis. Hendaknya pembangunan harus berdasarkan sesuai kebutuhan rakyat, bukan berdasarkan keinginan. Kebijakan penguasa saat ini menyerahkan rakyat kecil kegenggaman tangan pemilik modal.

Suara rakyat bernada serupa juga disampaikan Tarmidi seorang sopir taksi berwarna biru. Dari balik kemudi, Tarmidi menyampaikan perasaannya bahwa sekarang kondisinya serba sulit dan semuanya amburadul serta tidak ada kejelasan. Bahkan Tarmidi bersumpah, apa yang disampaikannya benar-benar dirasakan masyarakat kelas bawah dan menengah.

Tarmidi menuding, pemerintah tidak berwibawa, hanya ngurusin angkutan umum saja tidak becus. Angkutan umum yang memiliki izin lengkap tidak mendapat perlindungan, justru membiarkan kendaraan tetap beroperasi layaknya seperti angkutan umum, padahal tidak memiliki izin.

Tarmidi yang tampak semakin kesal,  menuturkan, dalam kondisi sulit dan susah seperti saat ini, justru hutang terus bertambah. Bangun infrastruktur dengan hutang, siapa yang bayar , kan kita juga nanti. Pemerintah senang bangat bangun jalan tol, lalu rakyat disuruh bayar. Ngurus Negara koq berfikirnya seperti ngurus perusahaan yang dipikirin bagaimana supaya dapat untung. Seharusnya pemimpin itu negarawan yang tujuannya membangun kesejahteraan rakyat, bukan mencari untung dari rakyatnya.

Bergaya orator, Tarmidi melanjutkan, negara ini sudah seperti milik sendiri. Mau naikin harga BBM tinggal naik, tidak tanya dulu , padahal ada wakil rakyat. Begitu juga harga kebutuhan pokok, semuanya naik, pemerintah diam saja.   Indonesia harus dipimpin seorang negawaran yang benar-benar memahami kondisi bangsa dan negaranya.

Suara kedua rakyat ini hendaknya tidak tercecer di keganasan kehidupan yang mereka geluti. Vox Populi Vox Dei harus menjadi warna dari setiap kebijakan pemimpin yang terpilih pada Pilpres 2019 mendatang. O Edison Siahaan

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Selasa, 23 Juni 2020
Senin, 15 Juni 2020
Selasa, 09 Juni 2020
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020