Ist.
Apabila institusi Polri tetap membiarkan
polisi yang masih termasuk dalam tiga katagori tersebut. Maka, citra polri
tidak akan bisa membaik, justru akan jauh lebih buruk. Karena, polisi yang
bekerja demi kepentingan orang yang sedang
berkuasa, akan menghalalkan segala cara, yang penting asal bapak atau
ibu senang (ABS atau AIS). Polisi itu tidak akan mempedulikan apakah
tindakannya manusiawi, kontra produktif atau tidak. Bahkan tidak peduli jika
tindakannya akan merusak citra Polri.
Komisaris Besar (Kombes) DR Chrysnanda
Dwilaksana membeberkan tiga model polisi yang hingga saat ini masih terus
bercokol di tubuh Polri.Model pemolisian
seperti yang cenderung melakukan pendekatan kekuasaan atau penguasaan. Biasanya
melakukan penekanan yang membebani masyarakat. Dia tidak melakukan pendekatan kinerja,
tetapi dengan cara pendekatan pribadi.
Menurutnya, polisi berkarakter seperti
itu loyalitasnya hanya ke atas. Dan selalu berfikir hanya agar bapak atau ibu
senang. Model polisi itu sangat berkaitan dengan polisi yang bekerja untuk
mencari kekayaan atau keuntungan pribadi maupun kelompok. " Orieantasinya
jabatan, yang dapat dikatakan ‘basah’ dengan kewenangan melakukan upaya paksa,
kontrol maupun sebagai pemberi perijinan," kata Kombes Chrysnanda.
Pria peraih gelar Doktor bidang ilmu
kepolisian ini melanjutkan, polisi yang loyalitasnya hanya ke atas cenderung
tidak peduli organisasi. Saat sedang menjabat dalam posisi strategis, akan
menari-nari di atas penderitaan orang lain. Bahkan, dapat merong-rong
kewibawaan dan kekayaan negara. Model ini mirip dengan para pencari pesugihan
(kekayaan), segala cara dihalalkan dan segala cara dilakukan demi untung,
untung, dan untung secara materi.
Habis manis sepah di buang, itulah
istilah yang digunakannya. Karena setelah
tidak ada gunanya pasti akan ditinggalkanya, meskipun mantan pimpinanya
atau orang-orang yang pernah mendukung dan didukungnya.
Namun, setelah tidak ada kewenangan
dan kekuasaan, dilirikpun tidak, bahkan langsung dihapus dari memorinya.
Kombes DR Chrysnanda juga ingatkan
agar menjadi polisi jangan hanya sekadar polisi yang pasrah dengan keadaan, dan tidak mau belajar.
Sehingga tak mampu bersaing dengan cara-cara yang despotik. Karena tak memiliki
modal dan keahlian, akhirnya sungkem
sana- sungkem sini.
Menurutnya, polisi seperti ini hanya
akan menjadi polisi 703, atau apel jam tujuh, tidak ada yang dikerjakan atau
nol, kemudian hilang jam tiga. Sama sekali tidak ada inisiatif, apalagi
tanggung jawab.
Mereka juga hanya memiliki semangat emang
gua pikirin (EGP), bahkan hidup segan
mati tak mau. Diperintah tak mau, diberi tugas tak mampu, sehingga polisi
seperti ini menjadi benalu di tubuh Polri.Menurut
Kombes Chrysnanda, model polisi seperti itu, tentu tidak ada mamfaatnya bagi
mayarakat apalagi bangsa dan negara. Secara umum, Polri juga akan dirugikan.
Akibatnya, Polri akan menanggung sosial
cost yang amat tinggi, yaitu kehilangan
kepercayaan dari masyarakat dan akhirnya akan ditinggalkan, bahkan bila ada
kesempatan akan dihancurkan. Kedepan, Chrysnanda berharap, tidak ada lagi
polisi yang menjadi bom waktu yang siap meledak, tinggal menunggu detonatornya
saja. Edison siahaan