Senin, 15 Oktober 2018 10:40:38

Rupiah Merosot Dipicu Kepemimpinan Jokowi

Rupiah Merosot Dipicu Kepemimpinan Jokowi

Beritabatavia.com - Berita tentang Rupiah Merosot Dipicu Kepemimpinan Jokowi

Cabe rawit dipotong duren, tidak punya duit pokoknya keren. Kedongdong matang dibanting, rambutnya gondrong tidak mampu gunting. Bait lagu yang ...

Rupiah Merosot Dipicu Kepemimpinan Jokowi Ist.
Beritabatavia.com - Cabe rawit dipotong duren, tidak punya duit pokoknya keren. Kedongdong matang dibanting, rambutnya gondrong tidak mampu gunting. Bait lagu yang dikumandangkan Iwan Fals dalam konser suara untuk negeri beberapa waktu lalu, adalah potret kondisi merosotnya nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang sudah menembus angka Rp15 ribu/per dollar AS.

Wakil ketua umum Partai Gerindra, Arief Poyuno mengatakan, pemicu yang paling dominan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS adalah kepemimpinan Presiden Jokowi.

Efektivitas pembangunan dan kinerja pemerintah yang buruk sangat dominan memicu merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Sedangkan faktor eksternal dan stabilitas politik serta ekonomi hanya alasan yang relevansinya kecil, kata Arief Poyuono, dalam siaran persnya Senin (15/10).
 
Menurutnya, anjloknya nilai tukar rupiah adalah akibat ketidak mampuan pemerintah dan kinerja pemerintah yang tidak efektif atau tepat sasaran. Meskipun Arief Poyuono mencatat tujuh penyebab merosotnya nilai rupiah: 

1. Sejak tahun 2013 akhir, Indonesia masuk dalam 5 negara didunia yang rentan ekonominya seperti India,Brasil ,Turki dan  Argentina  ( Fragile Economy).
2.Diferensiasi Inflasi merupakan salah satu faktor kenapa kurs berubah-ubah. Negara yang inflasinya rendah atau stabil, nilai mata uangnya jarang sekali mengalami pelemahan terhadap mata uang lain. Berbeda dengan negara yang inflasinya lebih sering naik ketimbang turunnya, nilai mata uangnya lebih sering melemah dan sewaktu-waktu menguat (tidak stabil).

Dijelaskan, kaitan antara inflasi dan kurs juga tampak bila nilai rupiah melemah, inflasi akan terkena dampaknya. Angka inflasi akan cenderung naik karena beberapa produsen dalam negeri mengandalkan bahan baku dari luar negeri untuk produksi. Harga bahan baku yang mahal mengakibatkan harga produk juga mahal. Tentu saja ini mendorong naiknya inflasi.
Akibatnya bisa terjadi PHK buruh untuk menyikapi biaya produksi yang tinggi akibat kenaikan harga bahan Baku impor

3.Defisit Neraca Berjalan diartikan sebagai keseimbangan dalam perdagangan antarnegara. Dalam melakukan transaksi, mata uang yang disepakati secara luas yang dipakai sebagai alat tukar. Jika suatu negara lebih sering membeli dari luar negeri ketimbang menjualnya ke luar negeri, neraca berjalan akan mengalami defisit. Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan akan mata uang asing meningkat yang kemudian mengakibatkan pelemahan nilai mata uang dalam negeri.

4.Utang publik / hutang negara yang numpuk.
Di Indonesia adanya dana yang didapat dengan mengutang ditujukan untuk pembangunan dalam negeri. Seperti yang sering kita dengar, pembangunan infrastruktur yang kini gencar dilakukan pemerintah. Dana yang dibutuhkan tidak sedikit demi terealisasinya pembangunan ini.
 
Karena itu, meminjam dari luar negeri (berutang) menjadi pilihan. Besarnya nilai utang berdampak pada perubahan kurs rupiah. Pembayaran cicilan utang beserta bunganya menggunakan mata uang asing. Akibatnya, permintaan akan mata uang asing meningkat ketimbang rupiah. Hutang negara Indonesia 40 persen dipegang oleh asing ,kapan saja dilepas maka cadangan devisa Indonesia bisa tinggal setengah saja jumlahnya

5.Kegiatan ekspor dan impor dalam perdagangan mempengaruhi kurs mata uang. Tingginya ekspor daripada impor menandakan perdagangan sedang dalam kondisi baik. Sebaliknya, tingginya impor daripada ekspor menandakan perdagangan sedang dalam kondisi kurang baik.
Lalu, mengapa bisa memengaruhi kurs mata uang? Dengan tingginya ekspor, permintaan mata uang asing tidak besar. Sebaliknya, tingginya impor menyebabkan permintaan mata uang asing meningkat. Akibatnya, rupiah bisa-bisa mengalami pelemahan.

6.Politik dan ekonomi saling terikat satu sama lain. Krisis politik menimbulkan krisis ekonomi. Begitu juga sebaliknya, krisis ekonomi menimbulkan krisis politik. Dampaknya, nilai mata uang bisa melemah dan terus melemah seperti yang Indonesia yang mana para investor dan pemain pasar keuangan mulai kehilangan kepercayaannya terhadap Joko Widodo yang diprediksi bisa kalah dalam pilpres 2019

7.Faktor Ekternal
Apa yang terjadi di luar negeri turut memicu perubahan nilai tukar rupiah. Adanya rencana kenaikan suku bunga Federal Reserve System atau Fed Amerika Serikat mempengaruhi kondisi perekonomian global. Imbasnya, dolar menguat, rupiah melemah. Di samping itu, perubahan kebijakan fiskal dan perdagangan di Amerika Serikat juga memberi dampak bagi nilai tukar rupiah.

Menurut Arief Poyuono, faktor eksternal dan  stabilitas  politik dan ekonomi tidak akan besar pengaruhnya  terhadap nilai tukar rupiah jika point 1 sampai  5 menunjukan kinerja yang baik
Dia meminta agar Presiden Jokowi jujur, bahwa factor eksternal dan stabilitas politik maupun ekonomi tidak berdampak signifikan menurunnya nilai tukar rupiah. Hal itu dibuktikan dengan trend menurunnya nilai tukar rupiah adalah sejak Presiden Jokowi memimpin Indonesia. Rakyat menyampaikan salam Sayonara untuk Jokowi pada 2019. O son

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Rabu, 13 Mei 2020
Rabu, 22 April 2020
Jumat, 17 April 2020
Jumat, 27 Maret 2020
Kamis, 12 Maret 2020
Sabtu, 01 Februari 2020
Kamis, 23 Januari 2020
Rabu, 22 Januari 2020
Senin, 20 Januari 2020
Sabtu, 18 Januari 2020
Kamis, 16 Januari 2020
Rabu, 15 Januari 2020